FAC News
Phapros (PEHA) Akan Membangun Pabrik Bahan Baku Obat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Phapros Tbk (PEHA) berencana membangun pabrik bahan baku obat. Hal ini dilakukan demi mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku obat impor.
Sekretaris Perusahaan Phapros Zahmilia Akbar mengatakan, pabrik yang bakal dibangun rencananya mampu memproduksi detros, salah satu bahan baku untuk membuat cairan infus dan oralit. "Kami akan bekerjasama dengan BPPT," ujar Zahmilia kepada KONTAN, Rabu (16/10).
Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) nanti bakal menjadi pihak yang melakukan penelitian dan penerapan kajian proses produksi bahan baku obat tersebut. Sementara, Phapros bakal mengurusi soal produksi dan pemasaran.
Selain menggandeng BPPT, pembangunan pabrik bahan baku obat ini juga melibatkan PT Kimia Farma Tbk (KAEF), induk usaha Phapros. Pasalnya, Kimia Farma sejak 2016 juga telah bekerja sama dengan Sungwun Pharmacopia membangun pabrik di bawah bendera Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) yang memproduksi bahan baku obat aktif, kosmetik dan makanan suplemen.
Salah satu sinergi yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan bahan baku produksi KFSP untuk dioleh menjadi barang jadi di pabrik Phapros.
Namun, Zahmilia belum bisa memerinci kapan tepatnya pabrik ini bakal dibangun. Pasalnya, rencana ekspansi tersebut saat ini masih dalam tahap studi kelayakan alias feasibility study.
Yang terang, studi kelayakan bisa memakan waktu antara tiga hingga enam bulan. "Studi kelayakannya sudah dimulai bulan ini," imbuh Zahmilia.
Karena masih dalam tahap kajian, manajemen Phapros belum bisa memastikan berapa investasi yang diperlukan untuk merealisasi ekspansi tersebut. Jika studi kelayakan tuntas dan pabrik akan dibangun, alokasi dananya akan masuk ke dalam anggaran belanja modal atau capital expenditure.
Phapros sudah mulai menyiapkan capex 2020. "Capex tahun depan akan lebih besar, tapi persentasenya berapa belum bisa kami ungkapkan karena angkanya masih bergerak terus," jelas Zahmilia.
Asal tahu saja, untuk tahun ini, Phapros menganggarkan belanja modal Rp 250 miliar. Sebagian besar digunakan untuk ekspansi.