» Detail News

Selasa, 05 September 2017 - 09:28:25 WIB

Posting by : Fransiska Lintang
Category    : Economic News - Reads : 214



Deflasi, Bunga Acuan BI Bisa Turun Lagi


Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan penurunan harga barang dan jasa secara umum atau deflasi 0,07% pada Agustus 2017. Dengan angka itu maka laju inflasi 2017 diperkirakan makin terkendali sehingga semakin memberi ruang kepada Bank Indonesia (BI) menurunkan kembali suku bunga acuannya.

BPS mencatat inflasi tahun kalender Januari-Agustus 2017 sebesar 2,35% dan inflasi tahun ke tahun Agustus 2017 3,82%. "Ini lebih rendah dibanding Agustus 2016 yang deflasi 0,02% dan Agustus 2015 inflasi 0,39%," kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (4/9).


Dari 82 kota IHK yang diamati, 47 kota mengalami deflasi dan 35 kota sisanya terjadi inflasi. Deflasi tertinggi di Ambon sebesar 2,08% dan terendah di Samarinda 0,03%. Sementara inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe sebesar 1,09% dan inflasi terendah di Batam sebesar 0,01%.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, bahan makanan mengalami deflasi terbesar, yaitu 0,67% dengan andil terbesar sebesar 0,14%. Penyumbang deflasi antara lain bawang merah karena turun harga 11,79% dan bawang putih sebesar 13,7%.

Kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan juga deflasi 0,6% dengan andil 0,1%. Deflasi pada kelompok ini disumbangkan penurunan tarif angkutan udara turun 8,39%. Sementara kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga menghambat deflasi karena mengalami inflasi tertinggi 0,89%. "Ke depan yang perlu dicermati inflasi Desember karena Natal, tapi kami yakin inflasi secara tahunan stabil," kata Suhariyanto.

Kepala Ekonom BTN Winang Budoyo menilai deflasi Agustus akan menjadi alasan BI menurunkan suku bunga acuannya. "Terbuka peluang BI sekali lagi menurunkan suku bunga acuannya pada September ini ke level 4,25% untuk kemudian dipertahankan sampai semester 1 tahun 2018," ujarnya. Penurunan bunga acuan BI diharapkan mendorong perbankan melakukan hal sama atas bunga kredit dan simpanan.

Ekonom BCA David Sumual sependapat jika BI berkesempatan menurunkan BI 7-DRR sekali lagi pasca bulan lalu turun 0,25% menjadi 4,5%. Namun, penurunan bunga acuan harus memperhatikan kondisi eksternal, terutama pengurangan neraca bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve secara gradual.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo bilang, peluang penurunan suku bunga tetap terbuka jika stabilitas harga (inflasi) dan nilai tukar ke depan terjaga.

"Tidak bisa saya katakan pasti saat ini apakah tetap atau turun karena tergantung asesmen beberapa indikator makro khususnya eksternal," katanya.

Sumber : www.kontan.co.id

  Tag :

bank-indonesia,ekonomi




    Berita Terkait :

  • Darmin: Suku Bunga Turun, BI Pro Pertumbuhan
  • Sri Mulyani Akan Teliti Kembali RAPBN 2018
  • Penjualan Rumah AS Anjlok Hingga 9,4%
  • BI: Sumber Pertumbuhan Ekonomi dari Pemerintah
  • BI Bakal Kerek Batas Atas Maksimal Kredit (LTV)