FAC News
Tertekan Beban, Laba Bersih Surya Esa Perkasa (ESSA) Susut 2,5 Kali Lipat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak mengoperasikan pabrik amonia pertengahan tahun lalu, pendapatan PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA, anggota indeks Kompas100) memang melejit. Namun pertumbuhan kinerja itu belum sejalan dengan perolehan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik perusahaan alias laba bersih.
Sepanjang sembilan bulan 2019, pendapatan Surya Esa tumbuh lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 168,39 juta. Sebaliknya, laba bersih berkurang sekitar 2,5 kali lipat menjadi US$ 4,54 juta. Lonjakan sejumlah beban menjadi penyebab utama.
Mengacu laporan keuangan Surya Esa per 30 September 2019, beban pokok pendapatan naik lebih dari tiga kali lipat menjadi US$ 139,39 juta.
Menyusul, kenaikan beban umum dan administrasi lebih dari 1,5 kali lipat menjadi US$ 12,09 juta dan pertumbuhan sekitar empat kali lipat hingga mencapai US$ 30,59 juta.
Sementara dari sejumlah beban, secara khusus belanja bahan baku dan biaya lain-lain paling menguras keuangan.
Belanja bahan baku merupakan bagian dalam pos beban pokok pendapatan. Nilai belanja bahan baku US$ 88,91 juta atau 63,79% terhadap total beban pokok pendapatan.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilainya terungkit lebih dari 2,5 kali lipat ketimbang periode yang sama tahun 2018.
Berkaca dari rapor sembilan bulan di tahun ini, Surya Esa lebih memilih fokus menjaga level produksi dan margin laba bersih pada kuartal IV-2019.
Mereka tak akan mengejar pertumbuhan laba bersih dari kenaikan harga jual produk.
"Kalau harga membaik, di kuartal keempat profit bisa lebih tinggi," kata Lufy Setia R., Corporate Secretary and Head of Legal PT Surya Esa Perkasa Tbk kepada KONTAN, Senin (11/11).
Lain cerita dengan target penjualan. Surya Esa yakin dapat merealisasikan seluruh target penjualan 2019.
Pasalnya, mereka telah memiliki offtake agreement atau perjanjian pembelian hingga tahun 2027 dengan Genesis Corporation untuk produk amonia. Ada pula kontrak penjualan jangka panjang dengan Grup Pertamina untuk produk liquefied petroleum gas (LPG).
Tahun ini, Surya Essa mematok target volume produksi sebesar 750.000 metrik ton (mt) amonia dan LPG.
Hingga September 2019, perusahaan berkode saham ESSA di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut sudah merealisasikan lebih dari 75% target.