FAC News
Tambang Batubara Memicu Bisnis Bahan Peledak Ancora Indonesia Resources (OKAS)
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) optimistis permintaan amonium nitrat, yang merupakan bahan peledak, masih bertumbuh hingga akhir tahun nanti. Pasalnya, aktivitas pertambangan batubara yang selama ini menjadi pasar utama OKAS masih menguat.
Meski perang dagang antara China dan Amerika Serikat mempengaruhi bisnis batubara, permintaan di dalam negeri masih berpeluang tumbuh.
Direktur Utama OKAS, Rolaw P. Samosir, mengatakan permintaan domestik berasal dari kebutuhan pasokan energi listrik. "Batubara masih jadi bahan bakar murah untuk pembangkit listrik, hal ini akan mempengaruhi kebutuhan bahan peledak," ungkap dia kepada KONTAN, Sabtu (26/10).
Di sisi lain, produk impor turut membayangi bisnis OKAS. Sebagian kebutuhan amonium nitrat domestik masih diperoleh dari impor.
Rolaw berharap pemerintah memperhatikan regulasi di industri ini, khususnya pengetatan kuota impor. Saat ini kebutuhan amonium nitrat dalam negeri 80%-90% sudah bisa dipasok produsen lokal.
Tahun depan, OKAS berencana membangun pabrik perakitan bahan peledak booster untuk melakukan subtitusi kuota impor tersebut. Nilai investasi pabrik tersebut ditaksir mencapai US$ 2,5 juta hingga US$ 3 juta.
Kebutuhan booster mencapai 4 juta potong (pieces) per tahun. Saat ini, suplai booster baru berasal dari PT Dahana sebanyak 1,4 juta potong. Adapun OKAS membidik kapasitas produksi booster sebanyak 2 juta potong per tahun.
OKAS optimistis menjalani bisnis tahun depan. Mereka meyakini volume penjualan berpeluang tumbuh signifikan setiap tahun.
Hingga Agustus tahun ini, OKAS telah memproduksi amonium nitrat 72.444 metrik ton (MT), naik dibandingkan periode yang sama tahun lalu 59.680 MT.
Ancora menargetkan sampai akhir tahun ini memproduksi 125.000 MT amonium nitrat, dengan kapasitas terpasang 150.000 MT per tahun. Mengacu laporan keuangan semester I-2019, OKAS meraup pendapatan US$ 76,19 juta, tumbuh 18,57% year on year (yoy).Manajemen OKAS juga meyakini mampu membukukan pertumbuhan yang signifikan hingga kuartal ketiga tahun ini. "Kami optimistis mampu mencapai target bisnis di sepanjang 2019," sebut Rolaw.
Di awal tahun ini, OKAS membidik pendapatan senilai US$ 140 juta hingga US$ 150 juta. Jika dibandingkan realisasi di akhir tahun lalu US$ 137 juta, maka OKAS memproyeksikan pertumbuhan pendapatan 9% di tahun ini.
Sementara itu beban pokok penjualan selama semester I-2019 naik 15,4% (yoy) menjadi US$ 64,03 juta. Adapun laba kotornya US$ 12,14 juta di paruh pertama tahun ini atau tumbuh 38% yoy.
Namun pos beban lainnya masih terlalu besar, sehingga OKAS memperoleh rugi bersih semester I-2019 US$ 465.000. Sejatinya, kerugian ini menyusut dibandingkan semester I-2018 yang senilai US$ 2,13 juta. Menurut Rolaw, bottom line belum dapat pulih dari minus sampai akhir tahun ini.
Sampai semester I-2019, segmen bisnis bahan peledak dan jasa peledakan menyumbang 88% dari total pendapatan atau US$ 67,53 juta. Lini bisnis peledakan tumbuh 28% dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 52,42 juta.
Pada paruh pertama tahun ini, pelanggan terbesar OKAS adalah PT Amman Mineral Nusa Tenggara dengan nilai pembelian US$ 16,99 juta, tumbuh dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.