FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Meski Cukai Rokok Naik, Indonesian Tobacco Yakin Kinerja Bisa Melejit

Administrator - 04/12/2019 13:44

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tahun depan PT Indonesian Tobacco Tbk menargetkan pertumbuhan penjualan bersih dan laba bersih minimal sebesar 20% year on year (yoy).

Selain perluasan pasar, perusahaan tersebut berharap bisa mengail bisnis di tengah kenaikan cukai rokok mulai awal 2020.

Indonesian Tobacco memproduksi tembakau iris. Produk tembakaunya tidak terlalu banyak mengalami kenaikan cukai seperti rokok.

"Sehingga ada peluang pasar luas dari konsumen kelas bawah yang tentu merasa berat dengan kenaikan harga rokok," kata Djonny Saksono, Direktur Utama PT Indonesian Tobacco Tbk, ditemui usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB), Selasa (3/12).

Sementara strategi perluasan pasar Indonesian Tobacco merambah area domestik maupun mancanegara.

Untuk dalam negeri, kini perusahaan berkode saham ITIC di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut tengah memperluas pasar ke sejumlah provinsi di Sumatra, Kalimantan dan Jawa. Sebut saja Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan Jambi dan Pekanbaru.

Kalau untuk ekspor, belum lama ini Indonesian Tobacco mendapatkan pasar baru di Taiwan.

Kalau tidak meleset, penjualan tembakau iris ke negara beribukota Taipei tersebut akan terjadi pada semester I-2020.

Sebelumnya, Indonesian Tobacco juga mengincar potensi pasar tembakau di China dan India.

Negara-negara baru tujuan ekspor tadi akan melengkapi portofolio Indonesian Tobacco yang tercatat sudah merambah Malaysia, Singapura dan Jepang.

Mereka mengusung merek dagang Pohon Sagu, Butterfly dan Papillon.Agar target kinerja tahun depan terwujud, Indonesian Tobacco berencana merevitalisasi mesin.

Lewat cara itu, mereka ingin mengurangi bahan yang terbuang percuma dan mendorong produksi varian baru.

Hanya saja, belum ketahuan alokasi dana belanja modal alias capital expenditure (capex) 2020.

Sementara sampai tutup tahun ini, Indonesian Tobacco yakin bisa memenuhi target penjualan Rp 170 miliar-Rp 180 miliar atau tumbuh sekitar 26,38%-33,81% yoy.

Informasi saja, hinga kini perusahaan tersebut belum mempublikasikan kinerja sembilan bulan 2019 karena masih dalam tahap audit.

Namun manajemen Indonesian Tobacco memastikan, capaian penjualan hingga September 2019 tumbuh dobel.

Tren pertumbuhan penjualan juga terjadi di kuartal IV.

"Kalau dilihat baik Oktober dan November masih ada kenaikan omzet," tutur Djonny tanpa menyebutkan nilai penjualan yang dimaksud.

Adapun sebelumnya Indonesian Tobacco merevisi turun targetlaba bersih dari semula Rp 10,3 miliar menjadi Rp 6 miliar tahun ini.

Pasalnya, selama semester I-2019 laba periode berjalan mereka baru sebesar Rp 1,08 miliar.

Indonesian Tobacco sudah menyerap 60% dari total dana sekitar Rp 60 miliar yang didapatkan dalam initial public offering (IPO) Juli 2019.

Kemungkinan awal tahun depan, sisa dana IPO akan terserap semua untuk belanja bahan baku tembakau virginia.

Filter