FAC News
Capitol Nusantara Optimis Bakal Cetak Laba Dalam Dua Tahun Mendatang
IQPlus, (10/12) - Emiten sektor pelayaran, PT Capitol Nusantara Indonesia Tbk (CANI) sejauh ini masih mengalami kinerja yang berat. Tercatat, hingga paruh pertama tahub ini saja, perseroan masih mengalami kerugian komprehensif mencapai US$ 4,23 juta.
Untuk itu, dengan kondisi kinerja keuangan yang seperti itu, dalam dua tahun ini perseroan tak lagi menambah kapal baru, justru melakukan strategi penjualan kapal-kapal yang ada.
"Sepanjang 2018-2019 ini, perseroan tak menambah unit armada kapalnya, justru kita menjual dua armada kapal, sehingga saat ini memiliki 56 armada dan dua unit crawler crane," kata Direktur Independen PT Capitol Nusantara Indonesia, Jansen OR Warokka, kemarin
Ia mengungkapkan bahwa, Strategi penjualan kapal tersebut dilakukan guna mengurangi beban perusahaan yang cukup berat. Dan baru akan beli kapal baru di tahun depan.
"Kondisi utilisasi kapal juga kan cuma 20-30 persen. Jadi kita akan jual kapal dan beli kapal baru kemudian 5-10 tahun kita jual lagi," papar Jansen.
Dengan begitu, perseroan mengklaim sesuai proyeksi di internal mereka baru akan mendulang laba dalam dua tahun ke depan.
"Iya dua tahun ke depan bisa laba. Makanya kita lakukan restrukturisasi kapal kita. Karena saat ini bisa pelayaran cukup berat, apalagi sudah dilarang untuk ekspor barang mineral. Jadi pasar kita nantinya lebih ke domestik saja," tutur dia.
Sementara itu, terkait sumber pendanaan untuk berinvestasi kapal-kapal baru itu, kata Jansen, hanya mengandalkan dana hasil penjualan kapal dan mengandalkan partner baru dari pihak luar.
Namun demikian, dirinya masih enggan untuk menyebut nilai investasi dan jenis kapal yang akan dibelinya. "Masih rahasia, tahun depan baru kita ekspos. Nanti ketahuan kompetitor. Untuk dana investasi bersumber dari jual kapal itu. Kalau pendanaan pihak ketiga (perbankan) sih belum tahu juga," kata Jansen.
Terkait pasar kapal bekas sendiri, lanjut dia, cukup besar. Terutama di negara-negara seperti Myanmar, Afrika Selatan, dan beberapa negara lainnya. "Itu pasarnya masih bagus. Kita ada untung dari situ. Karena sistemnya selain langsung kita jual juga ada sewa-jual. Kita sewa dulu baru kemudian dijual," pungkasnya.
Hingga akhir 30 Juni 2019, rugi komprehensif CANI sebesar US$ 4,23 juta. Hal ini karena adanya penurunan pendapatan dan kenaikan rugi kotor yang masing-masing sebesar US$ 43,17 ribu dan US$ 234,38 ribu.