FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Menghadapi kondisi serupa 2008, BI: Ekonomi dalam Negeri Tahun ini Jauh Lebih Baik

Administrator - 28/05/2019 14:45

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Libur lebaran tahun ini terbilang cukup panjang yakni 11 hari. Kondisi yang sama juga terjadi pada libur lebaran tahun 2008. Saat itu pemerintah menetapkan libur lebaran total enam hari.

Sebelas tahun silam, rupiah juga mengalami pelemahan sangat tajam. Dari Rp 9.800-an di Januari 2008 menjadi Rp 11.000-an di akhir tahun 2008. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menjelaskan depresiasi rupiah tersebut bukan karena libur panjang melainkan karena kondisi krisis global yang juga ikut dirasakan Indonesia.

"Pada 2008 pelemahan rupiah tidak terkait dengan libur lebaran yang panjang namun lebih terkait dengan kondisi global yang didera krisis keuangan," ujar Dody saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (28/5).

Indonesia pada tahun 2008 dan 2019 menghadapi hal yang sama yakni tantangan global yang mempengaruhi kondisi ekonomi dalam negeri. Berdasarkan Laporan Perekonomian Indonesia tahun 2008 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) krisis global saat itu berawal di Amerika Serikat (AS) pada tahun 2007 dan dirasakan negara berkembang tahun 2008.

Kondisi tersebut dipicu oleh perubahan arah kebijakan moneter AS menjadi ketat memasuki pertengahan 2004 serta tren peningkatan suku bunga hingga tahun 2006. Kondisi ini menjadi pukulan berat bagi perumahan di AS yang ditandai dengan banyaknya debitur gagal bayar.

Di Indonesia, imbas krisis mulai terasa menjelang akhir 2008. Setelah mencatat pertumbuhan ekonomi di atas 6% sampai dengan kuartal III-2008, perekonomian Indonesia mulai mendapat tekanan berat pada triwulan IV-2018. Tercermin dari anjloknya kinerja ekspor. Di sisi eksternal neraca pembayaran Indonesia mengalami peningkatan defisit menjadi US$ 1,95 miliar terutama disebabkan defisit transaksi modal dan finansial sebesar US$ 1,71 miliar

Sedangkan, menurut Dody, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dengan kredibilitas dan koordinasi kebijakan yang kuat. Terlihat dari inflasi di tahun ini masih berada dikisaran 2,83% secara tahunan (yoy) per April 2019. Sedangkan tahun 2008 inflasi di kisaran 7,36% hingga 11%.

Meskipun Indonesia juga tidak terhindar dari gejala tekanan global, apalagi terjadi eskalasi perang dagang AS-China. Dari sisi internal, baik impor maupun ekspor Indonesia mengalami pelemahan masing-masing turun 7,75% dan 2,08%.

Berbagai lembaga internasional juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan global diprediksi semakin melemah yang disertai perubahan harga komoditas. Perang dagang AS dan China, isu geopolitik, dinamika Brexit serta krisis ekonomi di Turki dan Argentina meningkatkan risiko di negara berkembang. Kondisi ini juga telag membayangi pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 2018.

Selanjutnya kebijakan yang ditempuh BI masih bersifat front loading dan preemptive yaitu merespon perkiraan kondisi ke depan sehingga stabilitas dapat tetap terjaga termasuk pada saat hari libur.

Filter