FAC News
Konflik Timur Tengah Tekan Industri Plastik, Ini Strategi Panca Budi
EmitenNews.com - PT Panca Budi Idaman Tbk (PBID) mulai mewaspadai dampak berkepanjangan konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap industri petrokimia global. Meski demikian, emiten produsen kantong plastik itu memastikan pasokan bahan baku biji plastik masih aman di tengah gejolak harga energi dan pelemahan rupiah.
Manajemen PBID mengungkapkan, tekanan industri pada 2025 terutama dipicu penurunan harga biji plastik global yang menyebabkan nilai penjualan terkoreksi 0,95% menjadi Rp5,19 triliun. Kendati demikian, Perseroan mengklaim tetap mampu menjaga stabilitas profit di tengah volatilitas pasar bahan baku.
“Penurunan penjualan lebih disebabkan koreksi harga biji plastik global sepanjang 2025, bukan karena penurunan fundamental bisnis,” ujar manajemen PBID laporan hasil paparan publik dikutip Minggu, (10/5/2026).
Manajemen PBID juga mengakui konflik geopolitik di Timur Tengah sempat memicu lonjakan harga bahan baku hingga 70%-80% pada awal 2026. Namun, harga kini mulai mengalami koreksi seiring meredanya kepanikan pasar.
Menurut Perseroan, tantangan terbesar bukan terletak pada potensi kelangkaan bahan baku, melainkan tekanan inflasi global dan fluktuasi harga yang dapat memengaruhi daya beli pasar.
“Pasokan biji plastik secara global masih sangat aman karena pasar justru mengalami oversupply,” jelas manajemen.
Diversifikan Sumber Bahan Baku
Manajemen PBID menyebut diversifikasi sumber bahan baku menjadi salah satu kunci mitigasi. Perseroan kini memiliki 4 hingga 5 pemasok cadangan dan tidak bergantung pada satu produsen tertentu.
Selain itu, Perseroan menjaga level inventaris dalam posisi aman guna mengantisipasi panic buying ketika harga melonjak akibat konflik geopolitik.
Strategi efisiensi biaya juga terus dilakukan melalui pembelian dalam volume besar agar memperoleh harga kompetitif serta memanfaatkan stok lama untuk meredam gejolak harga pasar.
Perseroan juga menepis kekhawatiran terkait ancaman kelangkaan bahan baku apabila perang berlangsung hingga akhir tahun atau bahkan tahun depan. Menurut manajemen, sumber bahan baku plastik saat ini semakin terdiversifikasi, tidak hanya berbasis nafta minyak bumi tetapi juga shale gas dan coal-based technology.
“Secara fundamental pasokan biji plastik masih aman karena adanya diversifikasi teknologi dan kondisi oversupply global,” tulis manajemen.
Di sisi lain, pelemahan rupiah terhadap dolar AS dinilai belum memberi tekanan signifikan terhadap profitabilitas Perseroan. PBID menyebut eksposur utang valas relatif kecil dibanding total aset sehingga risiko kurs lebih terkendali.
Selain itu, industri biji plastik menerapkan mekanisme harga berbasis dolar AS. Artinya, harga jual domestik akan otomatis menyesuaikan dengan pergerakan kurs harian.
“Perusahaan juga memiliki fasilitas hedging yang digunakan secara terukur untuk memitigasi fluktuasi kurs ekstrem,” ujar manajemen.