FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Komitmen Investasi China Tidak Terganggu Virus Corona

Administrator - 13/02/2020 09:12

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia banyak menjalin kerjasama bisnis dan investasi dengan China. Baik kerjasama pemerintah dengan pemerintah (G to G), pengusaha dengan pengusaha (B to B) maupun skema lain. Pelaku industri yakin, virus korona tak akan mengganggu kongsi tersebut.

Sanny Iskandar, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Properti dan Kawasan Ekonomi melihat, sejauh ini arus investasi masih kondusif. Lagi pula, pemerintah semakin aktif memperluas jalinan bilateral dengan negara selain China. "Hubungan seperti ini perlu digalakkan agar tidak bergantung dengan satu negara," kata dia kepada KONTAN, Selasa (11/2).

Mengacu data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), sepanjang tahun lalu nilai penanaman modal asing (PMA) dari China mencapai US$ 4,7 miliar atau 16,8% terhadap total PMA. Negeri Panda berada di urutan kedua setelah PMA Singapura yang tercatat US$ 6,5 miliar atau berkontribusi 23,1%.

Tiga besar sektor usaha dengan nilai realisasi investasi asing maupun dalam negeri meliputi transportasi, gudang dan telekomunikasi dengan nilai Rp 139,0 triliun. Selanjutnya adalah sektor listrik, gas dan air senilai Rp 126,0 triliun. Adapun sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran tercatat Rp 71,1 triliun.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia juga meyakini nasib investasi China tetap aman. Tak terkecuali proyek pembangkit listrik yang banyak menjadi garapan China. Pasalnya, proyek setrum masuk dalam program The Belt and Road Initiative yang menjadi strategi pembangunan jangka panjang China. Mereka menjamin komitmen pelaksanaannya meskipun ada perang dagang maupun perlambatan ekonomi.

Kalaupun wabah virus korona berdampak, kemungkinan hanya akan terasa pada sisi teknis. Seperti diketahui, kongsi dengan China tak hanya menyangkut investasi jutaan dollar AS. Namun, sebagian besar kontrak kerjasama menggunakan sumber dari China dalam bentuk bahan baku, barang modal hingga tenaga ahli.

Larangan bepergian di China bisa menghambat mobilitas tenaga ahli. Sementara libur aktivitas produksi di sana bisa menghambat pasokan bahan baku. "Ini pun kami proyeksikan akan kembali normal begitu wabah mereda," tutur Shinta Widjaja Kamdani, Wakil Ketua Kadin Bidang Hubungan Internasional.

Salah satu perusahaan yang terlibat dalam proyek kerjasama dengan China adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Perusahaan pelat merah itu tergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) yang memiliki 60% proyek kereta cepat Jakarta-Bandung. Sisa 40% saham merupakan milik Beijing Yawan HSR Co Ltd asal China.


Pengerjaan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung kini sampai tahap 41%. Wijaya Karya menargetkan tahapannya naik menjadi 70% sampai akhir 2020 nanti. "Kami tidak mengalami dampak apapun dari virus korona," ungkap Mahendra Vijaya, Corporate Secretary PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Laju ekspor impor bisa melambat

Jika investasi masih aman, tidak demikian jalinan perdagangan. Perlambatan ekonomi di China berpotensi menggoyang ekspor dan impor Indonesia. Pelaku industri menghadapi ketidakpastian dari efek virus korona.

Meminjam proyeksi sejumlah ahli, Johnny Darmawan, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri bilang, kemungkinan virus korona baru berakhir pada April. Dengan asumsi itu saja, China harus membenahi kerusakan ekonomi dalam tiga bulan pertama tahun ini. Perlambatan di sana bisa mengerem laju perdagangan negara lain.

Padahal Indonesia juga kesulitan mengejar pertumbuhan ekonomi lebih dari 5%. "Maka pemerintah harus mencari alternatif dan melakukan gebrakan agar proyeksi ekonomi Indonesia tercapai," kata Johnny.

David, Wakil Presiden Direktur PT SLJ Global Tbk mengakui, aktivitas ekspor produk kayu bisa terhambat akibat korona. Jika permintaan turun, harga jual bisa menyusut. Maklumlah, China adalah produsen sekaligus konsumen plywood terbesar dunia.

PT Hexindo Adiperkasa Tbk juga mencemaskan efek korona terhadap permintaan batubara China. Sektor batubara menjadi pasar utama alat berat. "Cepat atau lambat pasti ada dampaknya," ujar Djonggi Gultom, Presiden Direktur Hexindo Adiperkasa.

 

Filter