FAC News
Impor Migas Jadi Momok Neraca Dagang
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Neraca perdagangan Indonesia kembali memerah. Beban utama defisit neraca perdagangan berasal dari neraca minyak dan gas alam. (migas), meski impor migas sudah menyusut drastis.
Benar ini bukan masalah baru. Neraca migas Indonesia selalu mengalami defisit, dan semakin melebar seiring meningkatnya konsumsi migas domestik serta penurunan produksi.
Tahun 2018, semisal, defisit neraca migas sempat melonjak 45% dibanding tahun 2017. Bahkan periode itu menjadi defisit terparah selama empat tahun terakhir.
Menilik catatan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor Indonesia sepanjang Januari-September 2019 mencapai US$ 124,17 miliar. Sementara impor mencapai US$ 126,12 miliar. Dengan kinerja itu, defisit neraca dagang sembilan bulan di tahun ini sebesar US$ US$ 1,95 miliar.
Jika dirinci, dari total ekspor itu, ekspor non migas mencapai US$ 114,75 miliar, sedang ekspor migas cuma US$ 9,42 miliar. Sementara dari total impor sebesar US$ 124,17 miliar, sebesar US$ 110,253 miliar adalah impor non migas, sedang impor migas US$ 15,86 miliar.
Ini artinya, selama periode tersebut neraca migas masih defisit US$ 6,44 miliar, sedangkan neraca non migas surplus US$ 4,49 miliar.
Impor migas memang turun, sejalan bertambahnya penyerapan minyak mentah jatah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Secara tahunan, impor migas susut 30,5%.Vice President Corporate Communication PT Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, total penyerapan minyak mentah domestik hingga pertengahan Oktober mencapai 128,2 million barel crude per day (MBCD) dari 43 KKKS.
Pertamina juga meningkatkan produksi bahan bakar minyak lewat proyek langit biru di kilang Cilacap dan kilang Balongan.
"Kami juga mengoptimalkan kilang-kilang agar bisa mencukupi kebutuhan solar dan avtur dalam negeri," kata Fajriyah (15/10).
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, pemerintah bisa mengurangi impor migas dengan menaikkan kewajiban campuran solar dengan minyak nabati dari B20 menjadi B30 dan B40.
Tapi, kata Ekonom Bank Permata Josua Pardede, neraca dagang Indonesia akan tetap mengalami tekanan lantaran ekspor tertahan ketidakpastian pemulihan ekonomi global. Makanya, pemerintah harus kembali menebar stimulus untuk mendongkrak ekspor demi perbaikan neraca perdagangan ke depan.
Diversifikasi pasar ekspor wajib dilakukan guna mengurangi ketergantungan pasar China.