FAC News
Tanpa Akuisisi, Bukit Asam Optimistis Produksi Tahun Ini Naik 5,26%
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bukit Asam Tbk fokus menggarap proyek hilirisasi dalam waktu dekat. Demi mendukung rencana kerja tahun 2020, perusahaan yang berdiri sejak 2 Maret 1981 ini sudah menyediakan dana belanja modal atau capital expenditure Rp 4,5 triliun. Namun, emiten itu tidak memasukan akuisisi lahan tambang batubara dalam rencananya. Alasannya, akuisisi membutuhkan pertimbangan banyak aspek, mulai teknis hingga kualitas batubara di lahan bersangkutan.
"Potensi tambang yang bisa kami akuisisi tentu harus layak secara keekonomian, baik melalui jual-beli batubara maupun usaha lain di sekitar tambang misalnya PLTU Mulut Tambang," ungkap Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Hadis Surya Palapa, Rabu (5/2) lalu. Meski tanpa mengakuisisi tambang baru, emiten dengan kode saham PTBA itu optimistis produksi batubara di tahun ini mencapai 30 juta ton. Jumlah itu naik 5,26% dibandingkan tahun lalu sebesar 28,5 juta ton.
Atas dasar itu, PTBA memilih fokus melaksanakan proyek lain, salah satunya proyek hilirisasi batubara. Emiten ini sedang menyiapkan pabrik di Tanjung Enim Sumatra Selatan untuk mengolah batubara menjadi produk lain dengan teknologi gasifikasi.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin menerangkan, pihaknya bekerjasama dengan Air Product & Chemicals Inc dari Amerika Serikat untuk hilirisasi batubara kalori rendah. Nilai total investasi pengembangan gasifikasi mencapai US$ 3,2 miliar. Air Products bertindak sebagai investor di bisnis upstream dan downstream. Gasifikasi adalah konversi batubara muda menjadi syngas (synthetic gas) kemudian diproses menjadi dimethyl ether (DME), metanol dan mono ethylene glycol (MEG). Itu merupakan bahan bakar yang bisa menggantikan LPG.
PTBA memperkirakan bisa memproduksi 1,4 juta ton DME, 300.000 ton metanol dan 250.000 ton MEG. Saat ini, PTBA sudah menyelesaikan studi kelayakan proyek gasifikasi batubara dan segera masuk tahap perencanaan awal, front end engineering design (FEED) dan engineering procurement and construction (EPC). PTBA berharap pabrik pengolahan batubara tersebut beroperasi pada akhir tahun 2023 mendatang. Operasional pabrik ini bisa membantu pengurangan impor gas sekitar US$ 1 miliar per tahun.