FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Siasati Penurunan Harga, SGRO Genjot Produksi CPO

Administrator - 13/12/2019 11:01

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten saham produsen minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) mencatatkan penurunan penjualan dalam sembilan bulan pertama tahun ini. Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (12/12), laba bersih SGRO tergelincir 90,28% secara tahunan menjadi Rp 16,4 miliar di kuartal III-2019.

Penurunan laba bersih ini antara lain sebagai imbas penurunan penjualan sebesar 0,8% year on year (yoy) menjadi Rp 2,27 triliun. Maklum, penjualan produk kelapa sawit susut 0,82% secara yoy menjadi Rp 2,2 triliun. Sementara penjualan produk lainnya turun tipis sebesar 0,07% menjadi Rp 65,84 miliar.

Persoalannya, tatkala penjualan sedang turun, SGRO menghadapi kenaikan beban pokok penjualan sebesar 11,26% yoy menjadi Rp 1,87 triliun. Alhasil, laba bersih SGRO pun merosot.

Direktur Utama SGRO Budi Halim menyatakan, rata-rata harga jual CPO sedang turun. Harga jual rata-rata SGRO untuk CPO dan inti sawit atau palm kernel dalam sembilan bulan pertama tahun ini turun masing-masing 12% dan 33% secara tahunan.

Sebagai antisipasi penurunan harga, SGRO pun menggenjot volume penjualan CPO. Upaya ini didukung pula oleh peningkatan hasil panen kelapa sawit SGRO.Kuartal III-2019, SGRO mencatat kenaikan volume penjualan CPO sebesar 19% yoy menjadi 292.198 ton. Penjualan palm kernel juga naik 3% menjadi 64.440 ton.

Peningkatan hasil panen tertinggi berasal dari kebun SGRO di Sumatera Selatan, yang berkontribusi 32% secara kuartalan. "Kebun di Sumatera Selatan memasuki periode siklus panen tinggi, meskipun di tengah cuaca kian panas dan kekeringan," kata Budi.

Sekretaris Perusahaan SGRO Michael Kesuma menambahkan, kinerja kuartal III-2019 merupakan periode titik balik karena SGRO berhasil meningkatkan profitabilitas. "Kami berhasil membukukan laba dari kuartal lalu merugi, meskipun harga jual masih menurun dibanding kuartal II-2019," ucap dia.

Ke depan, SGRO yakin intensifikasi kebun akan berdampak positif. SGRO mencatat, harga minyak sawit yang telah melonjak 40% sejak akhir September 2019. "Pemicunya adalah efek gabungan dari kekhawatiran penurunan pasokan serta kenaikan permintaan untuk program B30 Indonesia," kata Budi.

Filter