FAC News
Pendapatan TPIA Turun 8,6% Di Sembilan Bulan Pertama 2020
IQPlus, (26/10) - PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) hari ini merilis laporan keuangan konsolidasi yang tidak diaudit untuk sembilan bulan pertama tahun 2020. Perseroan mencatatkan Pendapatan Bersih sebesar US$1,268.0 juta, atau menurun 8.6% dari US$1,387.6 juta periode serupa tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan tersebut akibat dari harga penjualan rata-rata produk yang lebih rendah terutama untuk Olefins dan Polyolefins namun dengan permintaan sehat yang kontinyu menghasilkan peningkatan volume penjualan (1,626 KT dari 1,394 KT di YTD Q3 2019 vs YTD Q3 2020).
Beban Pokok Pendapatan sebesar US$1,221 juta di di triwulan III 2020, mencerminkan harga Naphtha yang lebih rendah (rata-rata US$414/MT di YTD Q3 2020 vs US$543/MT di YTD Q3 2019), disebabkan oleh harga minyak mentah Brent yang lebih rendah yang terkontraksi ke rata-rata US$41/bbl dibandingkan dengan US$65/bbl di YTD Q3 2019. Namun, hal ini sebagian diimbangi oleh konsumsi Naphtha yang lebih tinggi akibat peningkatan kapasitas dan produksi.
EBITDA turun 57.9% menjadi US$65.5 juta dari US$155.4 juta pada YTD Q3 2019 karena kemerosotan industri petrokimia global pada Q1 2020, dimana lemahnya permintaan akan produk petrokimia karena perang dagang AS, penambahan kapasitas dan perlambatan ekonomi global karena munculnya pandemi di Cina dan wilayah NEA pada saat itu menyebabkan rekor selisih margin industri petrokimia yang rendah. Namun, kondisi makro yang mendasari telah berbalik sejak Juni seperti yang ditunjukkan oleh kinerja keuangan Q3 2020 yang sangat kuat.
Rugi Bersih Setelah Pajak sebesar di sembilan bulan pertama 2020, yakni sebesar US$19.0 juta dibandingkan dengan laba YTD Q3 2019 sebesar US$32.1 juta. Penurunan sebesar US$51 juta sebagian besar disebabkan oleh margin produk yang terkompresi pada Q1 2020, diimbangi oleh pengendalian biaya atas pengeluaran operasi yang lebih ketat dan pajak yang lebih rendah, tetapi dengan rebound yang terjadi di H2 2020.
Kumpulan likuiditas yang kuat sebesar US$797 juta yang terdiri dari US$516 juta dalam bentuk kas dan setara kas, US$228 juta Revolving Credit Facility yang tersedia, dan US$53 juta marketable securities setelah pelunasan dipercepat atas pinjaman jangka panjang dengan jaminan dan pembelian kembali obligasi USD untuk mengurangi utang berbunga Chandra Asri dari US$945 juta pada 30 Juni 2020 menjadi US$836 juta pada 30 September 2020.
"Kami dengan bangga melaporkan kinerja keuangan yang solid pada Q3 2020, dimana kami mencapai EBITDA sebesar US$61 juta dan laba bersih sebesar US$21 juta selama 3 bulan dari Juli hingga September 2020. Hal ini menjadikan EBITDA year-to-date 2020 kami sebesar US$66 juta dan mengurangi kerugian bersih sebesar US$19 juta. Kami terus dapat menjual volume produksi kami secara stabil tanpa penurunan permintaan, untuk melayani kebutuhan pelanggan kami dan pasar domestik yang dinamis."kata Direktur Perseroan, Suryandi, dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Perbaikan pada paruh kedua tahun 2020 ini, kata Suryandi, terjadi dengan latar belakang pemulihan permintaan dari China dan Asia Timur Laut, dan fokus berkelanjutan kami pada keunggulan operasional untuk memberikan operasi yang lancar dan aman. Posisi neraca kami tetap solid dengan kumpulan likuiditas sebesar US$797 juta per 30 September 2020 termasuk kas dan setara kas sebesar US$516 juta.
"Chandra Asri secara proaktif melakukan percepatan pelunasan sebesar US$125 juta dari secured term loan terakhir kami pada Juli 2020 (semestinya jatuh tempo pada tahun 2023), membeli kembali obligasi US$ kami sebesar US$20 juta di pasar terbuka, dan menerbitkan obligasi Rupiah dalam negeri sebesar US$68 juta untuk secara proaktif mengelola struktur modal kami sekaligus mengurangi biaya pendanaan secara keseluruhan."imbuhnya.