FAC Sekuritas Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan

FAC News

Lippo Karawaci (LPKR) Akan Menjual Bisnis Non-Inti

Administrator - 13/12/2019 10:48

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) memang buruk. Meski begitu, perusahaan properti ini telah memiliki rencana sendiri untuk kembali bangkit.

Hingga kuartal III-2019, LPKR mencatatkan rugi bersih mencapai Rp 1,72 triliun. Angka kerugian tersebut naik 120,51% secara tahunan. Padahal perusahaan ini terus berupaya menekan utang agar beban yang ditanggung tak terlalu berat.

Di kuartal III-2019, utang LPKR turun menjadi Rp 12,44 triliun dari akhir tahun 2018 sebesar Rp 14,87 triliun. Perusahaan ini menggunakan kas Rp 5,17 triliun untuk mengurangi utang, sehingga utang bersih tercatat Rp 7,27 triliun.

Untuk memperbaiki likuiditas, LPKR mengaku akan mengutamakan pembangunan kekuatan bisnis inti. Salah satu strategi yang dipaparkan LPKR dalam rilis di BEI adalah memperluas lini bisnis properti. Kelas menengah atas yang bertumbuh akan dimanfaatkan LPKR dengan memperbanyak proyek Urban Homes. Sehingga pendapatan pra penjualan bisa meningkat. Perusahaan ini masih memiliki persediaan proyek.

LPKR telah menjual Kemang Village dengan jumlah unit hunian 1.688, dan St Moritz Puri yang memiliki 1.064 unit. Masing-masing telah terjual 99% dan 98%. LPKR juga memiliki proyek yang sedang berjalan, antara lain Holland Village, Millenium Village, Kemang Office, Embarcadero, Lippo Office Thamrin dan Holland Village Manado.

Total marketing sales dari proyek ini mencapai US$ 261 juta. LPKR masih akan berpotensi mendapat US$ 170 juta.

Pada 2020, LPKR juga meningkatkan penjualan tanah di wilayah bukan bisnis inti. Sehingga anak usahanya, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), bisa membagikan dividen di 2022. "Landbank kami besar dan berbiaya rendah," ujar Surya Tatang Direktur LPKR dalam rilis Rabu (11/12).

LPKR juga akan menggenjot bisnis jasa lewat PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO). Caranya dengan fokus pada kualitas klinik dan perawatan pasien. Sehingga dalam 2-3 tahun bisa bagi dividen.

Di bisnis mal, LPKR juga akan mempertahankan posisi sebagai pemimpin pasar. Efisiensi juga akan dilakukan pada bisnis town management, Sky Parking serta bisnis yang menghasilkan pendapatan berulang.Tak hanya itu, LPKR juga mengoptimalkan imbal hasil dengan cara keluar dari bisnis non inti dan meningkatkan kinerja REITs. LPKR memiliki dua REITs yang tercatat di bursa efek Singapura.

Keduanya yaitu First Real Estate Investment trust (FREIT) untuk aset rumahsakit dan Lippo Malls Indonesia Retail Trust (LMIRT) untuk aset mal ritel dan ruangan ritel. "Lippo Mall Puri akan dijual ke LMIRT, perusahaan REITs listed di Singapura yang juga dimiliki Lippo Karawaci," jelas John kepada KONTAN.

Nilai transaksinya Rp 3,7 triliun. LPKR juga telah menjual kepemilikan rumahsakit di Myanmar Rp 300 miliar.

Selain itu, PT Link Net Tbk (LINK) milik Lippo Group juga telah dijual ke PT MNC Vision Networks Tbk (IPTV), perusahaan milik Hary Tanoesoedibjo. Keduanya telah menandatangani term sheet untuk menjajaki akuisisi mayoritas saham LINK dari PT First Media Tbk (KBLV) dan Asia Link Dewa.

LPKR juga telah mendapatkan dana dari penawaran umum terbatas sebesar US$ 788 juta dan hasil divestasi rumahsakit di Myanmar senilai US$ 20 juta. Jadi total dana segar yang didapat US$ 808 juta.

Sebesar US$ 186 juta dana digunakan untuk membeli kembali obligasi guna mengurangi utang, US$ 145 juta untuk cadangan likuiditas dan belanja modal, US$ 34 juta untuk investasi proyek, US$ 188 juta untuk Meikarta dan US$ 255 juta untuk investasi.

Filter