FAC News
CITA Incar Rp 1,3 Triliun Lewat Rights Issue
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) akhirnya menetapkan harga pelaksanaan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 2.022 per saham.
Harga ini lebih tinggi ketimbang harga penutupan CITA kemarin di Rp 1.960 per saham.
Dalam rights issue ini, CITA akan melepas sebanyak-banyaknya 648,22 juta saham baru.
Dus, emiten sektor pertambangan ini membidik dana segar Rp 1,3 triliun, dengan catatan jika seluruh pemegang saham menggunakan haknya.
Bagi pemegang saham yang tidak menggunakan haknya, aksi korporasi ini memberi efek dilusi 16,1%.
Merujuk prospektus rights issue CITA, pemegang saham mayoritasnya, yakni PT Harita Jayaraya menyatakan tidak akan melaksanakan HMETD yang dimilikinya.
Hak tersebut akan dialihkan seluruhnya kepada Glencore International Investments Ltd.
Dengan asumsi seluruh pemegang saham kecuali Harita Jayaraya mengeksekusi haknya, usai rights issue Glencore akan menjadi pemegang 29,77% saham CITA.
Sementara kepemilikan Harita Jayaraya menyusut dari 72,96% menjadi 61,19%.
Menggunakan asumsi haknya juga dieksekusi, kepemilikan investor publik di bawah 5% tetap 9,04%.
CITA akan menggunakan dana rights issue untuk melunasi sebagian utangnya kepada Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd., dan sebagai modal kerja perseroan. Jika melihat konteks CITA yang saat ini memiliki liabilitas sebesar Rp 1,8 triliun, maka pembayaran utang ini bakal memperbaiki rasio likuiditas perseroan ini.
"Aksi korporasi ini akan mendilusi para pemegang saham minoritas yang kemungkinan tidak menebus haknya," terang Presiden Direktur CSA Institute Aria Santoso kepada KONTAN, Kamis (30/1).
Sementara itu, terkait harga pelaksanaan rights issue yang saat ini di atas harga pasar, Aria tidak menampik hal itu bisa menyurutkan minat pemegang saham publik menggunakan haknya.
Namun, ia menilai harga pelaksanaan rights issue tersebut cukup murah jika dibandingkan dengan kinerja CITA.