» Detail News

Kamis, 11 Oktober 2018 - 15:18:38 WIB

Posting by : DEA
Category    : Economic News - Reads : 16



BBM Naik, Indef Perkirakan Inflasi 2018 Bisa Menyentuh 3,7%


Pemerintah baru saja menaikkan harga beberapa jenis bahan bakar minyak (BBM) seperti Pertamax series, dex series, serta biosolar non subsidi.

Bhima Yudhistira Adhinegara, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan kenaikan harga BBM non subsidi ini bisa mengerek inflasi. Hingga akhir tahun, ia memperkirakan inflasi bisa bertengger sekitar 3,5%-3,7%. 

Sementara, perkiraan sementara inflasi di Oktober akan sebesar 0,1%-0,15%. Inflasi pada Oktober ini diperkirakan mulai naik karena ada penyesuaian harga BBM non subsidi.

"(Inflasi) November dan Desembernya akan tinggi. Ada faktor seasonal natal dan tahun baru dimana permintaan barang biasanya naik, kemudian imported inflation mulai terasa akhir tahun dan BBM non subsidi tidak menutup kemungkinan kembali disesuaikan dua bulan terakhir," ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Kamis (11/10).

Menurut Bhima, penyesuaian harga BBM khususnya BBM non subsidi akan berpengaruh besar ke pengeluaran masyarakat kelas menengah di perkotaan. Adanya kenaikan ini menyebabkan tarif angkutan naik, biaya produksi bahan kebutuhan pokok naik, yang akhirnya mengikis daya beli masyarakat.

Dia menambahkan, jika inflasi mulai naik ditambah imported inflation akibat pelemahan kurs rupiah, masyarakat akan menahan belanja kebutuhan lainnya. "Konsumsi rumah tangga terancam melambat di bawah 5%, pertumbuhan ekonomi juga diperkirakan maksimum 5,1% tahun ini," tutur Bhima.

Menurutnya, sektor usaha yang akan terkena dampak langsung adalah ritel fast moving consumer goods (FMCG) skala menengah besar, grosir barang elektronik, dan industri kendaraan baik mobil dan motor. Pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor akan alami penurunan karena masyarakat memilih untuk menghemat BBM. Bhima melihat, outlook otomotif hingga 2019 masih belum positif.

Bhima menjelaskan, kenaikan harga BBM inijuga  akan berpengaruh ke defisit transaksi berjalan (CAD). Tetapi masih ada jeda (lag). Indef memperkirakan, CAD hingga akhir tahun berkisar 3% dari PDB. "Bahkan, melihat defisit migas melebar bisa 3,1% (dari PDB)," ujar Bhima.

Sumber : www.Kontan

  Tag :




    Berita Terkait :

  • 2019, SKRN Alokasikan Capex Rp200 Miliar
  • United Tractors (UNTR) Pacu Penjualan Batu Bara & Kokas
  • Banjir Sentimen Negatif, Harga Minyak Terendah Dalam 2 Pekan
  • Jokowi: RI dan Singapura Sepakati Swap US$ 10 Miliar
  • The Fed Hanya Bisa Beri Petunjuk Untuk Jangka Pendek