» Detail News

Selasa, 24 Juli 2018 - 08:18:23 WIB

Posting by : Deny
Category    : Market News - Reads : 331



Bukit Asam Mencetak Kenaikan Laba bersih 50%


Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih moncer. Ini berkat tren kenaikan harga batubara serta upaya efisiensi yang dilakukan emiten ini.

Di semester I-2018, PTBA mencetak pendapatan Rp 10,53 triliun, naik 17% dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 8,97 triliun. Volume penjualan naik 8% jadi 12,22 juta ton. "Rata-rata harga jual naik 9% menjadi Rp 838.288 per ton," ujar Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman, Senin (23/7).


BERITA TERKAIT
Bukit Asam targetkan menjual 25,88 juta ton batubara tahun ini
Laba Bukit Asam melambung 50% pada semester I 2018

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih moncer. Ini berkat tren kenaikan harga batubara serta upaya efisiensi yang dilakukan emiten ini.

Di semester I-2018, PTBA mencetak pendapatan Rp 10,53 triliun, naik 17% dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 8,97 triliun. Volume penjualan naik 8% jadi 12,22 juta ton. "Rata-rata harga jual naik 9% menjadi Rp 838.288 per ton," ujar Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman, Senin (23/7).

BACA JUGA
PTBA catat kinerja cemerlang, investor justru diminta wait and see
 
Bukit Asam mulai bangun PLTU Banko Tengah bernilai Rp 24 triliun
 
Penjualan ekspor menopang separuh pendapatan Bukit Asam semester I 2018
 
Tiga saham ini paling diincar asing pekan lalu, ini rekomendasi jangka pendeknya
 
PTBA juga berhasil menekan kenaikan beban pokok pendapatan hingga tidak lebih dari 9%, jadi Rp 6,1 triliun. Tapi, volume produksinya melompat 19% dari sebelumnya sebesar 11,36 juta ton di semester I-2017. Hasilnya, PTBA mampu mencetak kenaikan laba bersih sekitar 50% menjadi Rp 2,58 triliun.

Namun, manajemen PTBA tak menampik, penetapan harga batubara domestic market obligation (DMO) sebesar US$ 70 per ton yang diberlakukan Maret lalu memberikan efek. Tapi, manajemen tak khawatir.

Pembangkit listrik

PTBA telah menyiapkan strategi guna mengompensasi tekanan itu. Caranya, transfer kuota. PTBA bisa menjual batubara sisa kelebihan DMO kepada perusahaan batubara yang belum mampu memenuhi kuota DMO 25% dari volume produksi. Penjualannya menggunakan harga pasar.

Asal tahu saja, sekitar 50% produksi batubara PTBA selama ini sudah difokuskan ke pasar domestik. Tahun ini, PTBA menargetkan volume penjualan batu bara sebesar 25,88 juta ton. Komposisinya, 53% atau sebesar 13,27 juta ton untuk pasar domestik. Sisanya, 47% atau 12,15 juta ton untuk pasar ekspor.

Untuk merealisasikan target produksi dan operasional tersebut,  PTBA menganggarkan belanja modal sebesar Rp 6,55 triliun pada 2018.

PTBA juga masih meneruskan rencana ekspansi segmen pembangkit listrik. Salah satunya, proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang Banko Tengah Sumsel 8 di Muara Enim, Sumatra Selatan.

Pembangunannya dilakukan dengan skema konsorsium bersama China Huadian Hongkong Company Ltd selaku pemegang 55% saham konsorsium. Nilai investasinya US$ 1,68 miliar

Konstruksi ditargetkan dapat dimulai pada awal kuartal III-2018. Masa konstruksi memakan 42 bulan untuk unit 1, dan 45 bulan untuk unit II.

Senior Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut, kinerja PTBA terimbas tren tingginya harga batubara. Masalahnya, tren harga belum tentu bertahan hingga akhir tahun.

Terlebih, harga batubara sekarang mulai masuk tren penurunan secara bertahap. Jadi, rasanya kurang bijak jika masuk ke saham PTBA sekarang.

Ia menyarankan investor wait and see sambil menunggu harga batubara kembali ke level US$ 80 per ton. "Kecuali, masuk jika hanya untuk trading jangka pendek," jelas William.   

Sumber : www.KONTAN

  Tag :

ptba




    Berita Terkait :

  • Ekspor Batu Bara Topang Pendapatan Bukit Asam (PTBA)
  • Laba Bukit Asam Semester I-2018 Rp 2,57 T, Tumbuh 49,45%
  • IHSG Galau, Investor Asing Borong saham BBRI, BBCA & PTBA
  • Harga Batu Bara Patahkan Reli Empat Hari|
  • Harga Minyak Melesat, Sektor Pertambangan Malah Anjlok