IQPlus, (14/8) - Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk Budiawansyah menargetkan penambangan nikel di Blok Tanamalia, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, beroperasi paling cepat dimulai pada 2029.
"Habis itu, 2029-2031 tuh Tanamalia," ujar Budi ketika dijumpai di Jakarta, Kamis.
Proyek Tanamalia saat ini sedang dalam proses studi Front End Loading (FEL) 2. FEL merupakan panduan manajemen proyek PT Vale. Budi menyampaikan tahap FEL 2 dilakukan untuk merinci sumber daya cadangan yang ada di Tanamalia.
Metode tersebut nantinya menjelaskan bagaimana proyek dikembangkan dan direncanakan, mencakup aspek teknis, ekonomi, lingkungan dan bisnis yang berkaitan dengan perusahaan.
"Sehingga benar-benar ada gambaran rinci nanti pada saat kami melakukan desain detail," kata Budi.
Terkait dengan lokasi proyek Tanamalia yang berada di kawasan Hutan Lindung dan Hutan Produksi Terbatas seluas 13.556,8 ha di Kecamatan Towuti, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Budi menyatakan Vale hadir untuk mendengar aspirasi masyarakat.
Pengembangan proyek Tanamalia, kata dia, didasari oleh studi ekologi, studi kebencanaan dan lain-lain untuk memetakan risiko.
"Jadi, cara kami mengembangkan sebuah proyek itu ada proses dan tahapan yang tidak bisa asal bawa alat, gali, angkut. Harus clear," kata Budi.
Dikutip dari laman resmi Vale Indonesia, Tanamalia Project merupakan proyek pengembangan PT Vale Indonesia Tbk yang berlandaskan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) serta PPKH No. 885 Tahun 2025 untuk kegiatan eksplorasi di kawasan hutan.
Proyek ini mengoptimalkan nilai sumber daya mineral Indonesia sekaligus mendukung pembangunan nasional dan pengembangan nikel laterit.
Ke depan, proyek direncanakan memasuki eksplorasi rinci (2025-2026), konstruksi (2027-2028), dan penambangan paling cepat pada 2030, bergantung pada kelayakan cadangan nikel.


