» Detail News

Selasa, 13 Agustus 2019 - 15:28:51 WIB

Posting by : Deny
Category    : Corporate News - Reads : 16



Terungkap! Ada Rekomendasi IDB di Balik Kisruh Jababeka


Kisruh saling klaim manajemen PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) masih berlanjut. Tapi teka-teki awal mula persoalan pun pelan-pelan terungkap setelah manajemen baru dan manajemen lama, sama-sama menggelar konferensi pers Senin kemarin (12/8/2019), di jam dan lokasi berbeda.

Manajemen baru di bawah kendali Sugiharto, mantan Menteri BUMN era Oktober 2004 hingga Mei 2007, pun angkat bicara merespons kisruh dualisme manajemen ini.

Sugiharto, Direktur Utama Jababeka yang terpilih versi Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) 26 Juni 2019, menjelaskan secara gamblang perihal pengangkatan dirinya sebagai direktur utama Jababeka.

Semula, namanya bersama Aries Liman diusulkan dalam agenda kelima pada RUPS Tahunan pada 26 Juni itu. Dalam RUPST tersebut, disetujui pengangkatan Sugiharto sebagai direktur utama dan Aries Liman sebagai komisaris Jababeka yang baru.

Saat voting, dua pemegang saham Jababeka yakni PT Imakotama Investindo dan Islamic Development Bank (IDB) memberikan kuasa masing-masing kepada Iwan Margana dan Pratama Capital Assets Management.

"Saya ini diusulkan, saya tidak mencari-cari pekerjaan," kata Sugiharto, saat ditemui awak media di kantornya di Equity Tower, Jakarta, Senin (12/8/2019).

Lantas kenapa nama Sugiharto yang dipilih? Dalam kesempatan yang sama, Iwan Margana, Presiden Direktur Pratama Capital Assets menjelaskan, sosok Sugiharto direkomendasikan oleh IDB, yang saat ini sebagai pemegang saham terbesar kedua Jababeka dengan komposisi kepemilikan 11,39% setelah Mumin Ali Gunawan 21,09%.

Adapun Imakotama menggenggam 11,30% saham Jababeka.

Pertimbangan pertama, kata Iwan, opsi pergantian direktur utama dengan menunjuk Sugiharto akan menguntungkan KIJA ke depan. Sebab, Sugiharto adalah Board of Advisor IDB member countries sovereign investment forum dan dipercaya bisa mendatangkan suntikan dana dari Timur Tengah ke Indonesia.

IDB juga tercatat aktif berinvestasi di berbagai korporasi di Indonesia lainnya, seperti Bank Muamalat.

"Sugiharto termasuk dekat dengan sumber dana di Timur Tengah, bukankah ini ideal seumpama pendanaan di Timur Tengah untuk sukuk, KIJA sangat mudah," kata Iwan.

Selain itu, kata dia, mayoritas pemegang saham KIJA menginginkan pergantian posisi direktur utama perseroan agar kinerja perseroan lebih optimal dan transparan. Tak mengherankan, pemegang saham seperti IDB mengusulkan Sugiharto, mengingat dalam 3 tahun terakhir, perusahaan dengan kode saham KIJA itu tak membagikan dividen dan harga saham yang bergerak stagnan. 

"IDB mengusulkan Pak Sugiharto dan sudah menghadap langsung ke Pak Darmono [pendiri Grup Jababeka] dan itu telah disetujui," ungkapnya.

Tahun lalu, laba KIJA anjlok 52% menjadi Rp 40,97 miliar dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar Rp 84,86 miliar. 

Mengacu laporan keuangan perseroan, penurunan laba bersih ini seiring dengan koreksi yang dialami di pos pendapatan tahun lalu. KIJA mencatat total penjualan dan pendapatan konsolidasi sebesar Rp 2,71 triliun pada 2018, turun 9% dibandingkan 2017 Rp 2,99 triliun.

Lebih lanjut, Sugiharto menegaskan bahwa Jababeka belum cukup maksimal memanfaatkan aset berupa cadangan lahan (land bank) seluas 3.800 hektare untuk meningkatkan kinerja perseroan. Hal ini terindikasi dari harga saham KIJA yang tak juga beranjak dari level Rp 300/saham.

Menurut perhitungannya, dengan aset yang dimiliki perseroan, saham KIJA seharusnya berada di level Rp 700/saham. Oleh karena itu, penunjukkan dirinya sebagai direktur utama Jababeka yang baru dan diusulkan pemegang saham mayoritas untuk membenahi kinerja perseroan.

Dia juga menyebut, kinerja Jababeka belum berkembang dan tidak transparan.

Di lain pihak, manajemen lama di bawah kendali Budianto Liman, secara tegas menolak terjadinya perubahan pemegang saham pengendali (change of control) dalam RUPST 26 Juni lalu.


 

Sumber : www.CNBC

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Tak Kunjung Sehat, Izin Bank Ini Dicabut OJK
  • Perluas Jangkauan di Banten, Link Net (LINK) Gandeng Astra Infra
  • Pukul 14:00 WIB: Rupiah Melemah ke Rp 14.305/US$
  • Awal Sesi II, IHSG Melemah 0,48 Persen
  • Jelang Akhir Sesi I, IHSG Melemah 0,52 Persen