» Detail News

Rabu, 15 Mei 2019 - 13:47:34 WIB

Posting by : DEA
Category    : Economic News - Reads : 34



Loyonya Kinerja Ekspor Sebabkan Defisit Parah Neraca Dagang


Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib nahas menimpa neraca perdagangan luar negeri (ekspor-impor) Indonesia. Pasalnya sepanjang bulan April 2019, neraca perdagangan Indonesia membukukan defisit sebesar US$ 2,5 miliar. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto dalam konferensi pers hari Rabu (15/5/2019).

Tidak tanggung-tanggung, hal tersebut merupakan defisit bulanan yang paling parah sepanjang sejarah Indonesia. Sebelumnya, defisit paling parah hanya sebesar US$ 2,3 miliar yang terjadi pada bulan Juli 2013.

Defisit pada bulan April juga lebih parah dibanding prediksi konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia yang hanya US$ 497 miliar.

Penyebab utama pembengkakan defisit neraca dagang kali ini ada pada kinerja ekspor yang amat memprihatinkan.

Sepanjang bulan April 2019, Indonesia hanya mampu mencetak ekspor senilai US$ 12,6 miliar, atau turun hingga 10,8% year-on-year (YoY).

Kinerja ekspor paling buruk ada pada sektor migas yang hanya mampu mengekspor sebesar US$ 740 juta, atau turun hingga 37,06% YoY. 

Namun sejatinya ekspor migas memang sudah seharusnya turun karena saat ini minyak jatah ekspor produksi Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) sebagian besar dibeli oleh Pertamina. Selain itu ekspor migas hanya memiliki andil 5,89% terhadap total ekspor bulan April 2019.

Seharusnya yang menjadi perhatian adalah kinerja ekspor non migas karena menyumbang hingga 94,11% dari total ekspor sepanjang bulan April 2019.

Parahnya, ekspor non migas hanya sebesar US$ 11,86 miliar pada bulan April, atau turun hingga 10,96% YoY. 

Sektor industri pengolahan, yang merupakan komponen terbesar penyusun non migas, kali ini amblas hingga 11,82% YoY menjadi tinggal US$ 9,42 miliar.

Harga-harga komoditas yang berjatuhan menjadi salah satu penyebab utama buruknya kinerja ekspor non migas. Sebab itulah yang menyebabkan nilai ekspor komoditas utama Indonesia anjlok. Bahkan berdasarkan data BPS, lima komoditas ekspor utama Indonesia pada bulan April 2019 mendapat rapor merah alias terkontraksi secara YoY.

Contohnya ekspor golongan barang Bahan Bakar Mineral (HS 27) yang hanya sebesar US$ 7,58 miliar sepanjang Januari-April 2019 atau turun 6,82% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.. Padahal, secara volume ekspor HS 27 masih mengalami peningkatan. Itu terjadi karena harga batu bara turun cukup tajam.

Sama halnya dengan ekspor Lemak dan Minyak Hewan/Nabati (HS 15), yang terkontraksi hingga 19,88% YoY menjadi hanya US$ 5,43 miliar sepanjang Januari-April 2019. Harga komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang turun cukup juga menjadi penyebab terjadinya hal itu. Menurut Suhariyanto, volume ekspor CPO masih mengalami peningkatan, namun karena harga anjlok alhasil nilai ekspor turun tajam.

"Nilai ekspor bahan bakar mineral turun karena adanya penurunan harga, begitu pula minyak nabati," ujar Suhariyanto. "Selama satu tahun emang harga CPO dan turunannya turun cukup tajam, 27,86%. Dan kalau lihat per negara, ekspor CPO ke China meningkat, sedangkan ke India menurun"

Sebagai informasi komoditas bahan bakar mineral dan minyak hewan/nabati merupakan komponen penyusun ekspor non migas utama Indonesia. Pada bulan April, porsi bahan bakar mineral dan minyak hewan/nabati terhadap total ekspor non-migas masing-masing sebesar 15,49% dan 11,11%.

Sementara itu, impor pada bulan April 2019 turun 6,58% YoY menjadi sebesar US$ 15,10. Sebenarnya penurunan impor adalah hal yang baik karena mengurangi beban neraca perdagangan.

Hanya saja, ternyata penurunan impor paling besar ada pada barang modal. Pada bulan April 2019, impor barang modal turun hingga 8,68% YoY menjadi tinggal US$ 2,35 miliar. Artinya ada perlambatan dalam gairah industri dalam negeri karena barang modal lah yang digunakan untuk menunjang proses produksi. Sedangkan impor barang konsumsi hanya turun 5,37% YoY menjadi US$ 1,42 miliar.

Bila kinerja perdagangan yang seperti ini terus berlanjut, maka defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akan sulit untuk dihilangkan. Bahkan berpotensi tambah lebar.

Asal tahun saja, CAD kuartal I-2019 sudah mencapai US$ 6,9 miliar atau setara 2,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Artinya sudah jauh lebih besar dibanding kuartal I-2018 yang hanya setara 2,01% PDB.

Bila CAD makin lebar, maka mata uang Merah Putih, rupiah akan sulit untuk menguat karena kekurangan pasokan valas yang dapat bertahan lama. Ujung-ujungnya, Bank Indonesia semakin sulit menemukan alasan untuk menurunkan suku bunga.

Alhasil bunga Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) pun akan tetap berada di langit.

Sumber : www.CNBC Indo

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Daging Beku dan Apel Dorong Kenaikan Impor Konsumsi
  • Meski Saham Indofood Turun 15%, Tapi Asing Masih Setia
  • Neraca Dagang April 2019 Defisit US$ 2,5 Miliar
  • Destinasi Tirta Nusantara Raih Pendapatan Rp72,93 Miliar Hingga Maret.
  • LCK Global Kedaton Raih Pendapatan Rp24,28 Miliar Hingga Maret.