» Detail News

Kamis, 02 Mei 2019 - 08:56:56 WIB

Posting by : Deny
Category    : Corporate News - Reads : 80



Prospek Harga CPO Membaik, Mampukah Saham Indofood Sukses Makmur (INDF) Tembus Rp9.500?


Prospek membaiknya harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) pada pertengahan tahun ini diperkirakan dapat menopang bisnis PT Indofood Sukses Makmur Tbk. dari sisi penjualan segmen pertanian.

Adapun, berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2019, emiten dengan kode saham INDF mencatat kenaikan penjualan sebesar 8,73% menjadi Rp19,16 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp7,63 triliun. 


Begitu pula laba usaha meningkat 3,87% menjadi sebesar Rp2,58 triliun yoy, dengan margin laba usaha sebesar 13,45%. 

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat 13,53% menjadi Rp1,35 triliun secara tahunan. Margin laba bersih juga terapresiasi sedikit menjadi 7% dari 6,7%. 

Anthoni Salim, Direktur Utama dan CEO Indofood, pun menyampaikan bahwa perseroan akan berupaya menjaga keunggulan kompetitif dan pertumbuhan melalui peningkatan produktivitas dan pengendalian biaya di tengah-tengah kondisi harga CPO yang masih rendah sekarang ini.

Adapun, berdasarkan riset dari Jannis Asman, analis MayBank Kim Eng, harga CPO diperkirakan dapat menguat pada pertengahan tahun seiring dengan pasokan yang mulai berkurang dan rendahnya produksi pada kuartal II/2019.

“Diperkirakan rata-rata kenaikan harga CPO pada tahun ini sebesar 5%. Kami memperkirakan hal ini akan membuat pertumbuhan [INDF] naik 7% yoy dari penjualan agribisnis dan ekspansi EBIT margin sebesar 140 bps menjadi 6,5%,” kata Janni melalui riset terbarunya, seperti dikutip pada Rabu (1/5/2019).

Dengan demikian, MayBank Kim Eng meningkatkan perkiraan pendapatan INDF pada 2019 dan 2020 menjadi masing-masing 5% dan 7%.

Kendati demikian, Janni justru menurunkan rekomendasi saham INDF menjadi hold karena pertumbuhan pendapatan perseroan yang lebih rendah. Target harga yang diberikan pun dipangkas sebesar 66% menjadi Rp6.500.

Janni menilai, pergerakan saham INDF masih akan menghadapi risiko dari meningkatnnya dana pembiayaan, harga komoditas yang tidak mendukung, volatilitas mata uang, dan perubahan regulasi.

Di sisi lain, analis Deutsche Bank Raja Abdalla dan Gerry Harlan masih merekomendasikan beli untuk INDF dengan target harga Rp9.500. Keduanya sepakat bahwa tantangan bagi INDF juga masih berasal dari pergerakan harga komoditas, depresiasi nilai tukar, fluktuasi harga bahan baku, dan kondisi makroekonomi.

Adapun, Deutsche Bank juga mengapresiasi keputusan INDF untuk. mengambil alih seluruh saham publik dalam anak usahanya yang tercatat di Bursa Efek Singapura (SGX) yaitu Indofood Agri Resources Ltd. (IFAR) dengan tujuan mengefisienkan jumlah entitas anak yang tercatat.

“Meskipun kami percaya alasannya baik, dampak dari transaksi ini akan marjinal bagi keuangan INDF,” tulis Raja dan Gerry.

Adapun, transaksi tersebut dinilai akan meningkatkan rasio net gearing sekitar 2% dan berdampak terhadap laba dan rugi, yang mana diperkirakan bakal berada di bawah garis operasional dan marjinal mengingat selisih ukuran INDF—IFAR dan rendahnya free float.

Di lantai bursa, INDF ditutup menguat 8,17% ke level 6.950 pada akhir perdagangan Selasa (30/4/2019). Namun, secara ytd, INDF telah tergerus 6,71%. Kapitalisasi pasar INDF tercatat Rp61,022 triliun.

Sumber : www.BISNIS

  Tag :

indf




    Berita Terkait :

  • Inilah rekomendasi teknikal saham BBNI, INCO, dan INDF untuk Rabu
  • Saham Emiten Konsumer Kerek IHSG, INCF Melesat Hampir 35%
  • Pabrik Baru Indofood (INDF) Mulai Konstruksi Tahun Depan
  • Indofood Bukukan Penjualan Rp 54,74 Triliun
  • Kinerja Tertekan, Harga Saham Indofood Cs Naik di Atas 2%