» Detail News

Kamis, 14 Maret 2019 - 15:51:41 WIB

Posting by : Deny
Category    : Market News - Reads : 35



Ekspektasi Neraca Dagang Tekor, Asing Net Sell Rp 155 M


 Performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini patut diapresiasi. Kala mayoritas indeks saham utama kawasan Asia ditransaksikan melemah, IHSG bisa menguat 0,42% ke level 6.404,1. Sementara itu, indeks Nikkei turun 0,02%, indeks Shanghai anjlok 1,47%, dan indeks Hang Seng melemah 0,13%.

Sejatinya, penguatan IHSG bisa lebih tinggi lagi kalau investor asing tak keluar dari bursa saham tanah air. Hingga berita ini diturunkan, investor asing membukukan jual bersih senilai Rp 155 miliar. Jika bertahan hingga akhir perdagangan, maka akan menandai yang ke 5 secara berturut-turut.


5 besar saham yang dilepas investor asing pada hari ini adalah: PT Bank Central Asia Tbk/BBCA (Rp 84 miliar), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk/TLKM (Rp 75,8 miliar), PT United Tractors Tbk/UNTR (Rp 48,5 miliar), PT JAPFA Tbk/JPFA (Rp 43,6 miliar), dan PT Astra International Tbk/ASII (Rp 32,1 miliar).


Pelemahan rupiah memantik aksi jual investor asing. Di pasar spot, rupiah melemah 0,07% ke level Rp 14.270/dolar AS. Kala rupiah melemah, investor asing akan terdorong untuk melakukan aksi jual lantaran ada potensi kerugian kurs yang harus mereka tanggung.

Neraca dagang yang diprediksi akan kembali membukukan defisit membuat investor memilih untuk melepas rupiah dan beralih memeluk dolar AS. Besok, Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data perdagangan internasional Indonesia periode Februari 2019.


Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor terkontraksi sebesar 4,26% YoY, sementara impor diproyeksikan naik tipis 0,4% YoY. Alhasil, neraca dagang diperkirakan defisit senilai US$ 841 juta. Jika benar neraca dagang Indonesia kembali defisit, maka akan menjadi yang kelima secara berturut-turut.

Sebagai informasi, neraca dagang Indonesia membukukan defisit senilai US$ 1,16 miliar pada bulan Januari. Defisit neraca dagang periode Januari 2019 adalah yang terparah dalam setidaknya 12 tahun terakhir. Biasanya, bulan Januari justru menghasilkan surplus. Dalam 12 tahun terakhir, hanya 4 kali neraca dagang membukukan defisit pada bulan Januari, sementara surplus tercatat sebanyak 8 kali.

Dengan neraca dagang yang terus membukukan defisit, defisit transaksi berjalan/Current Account Deficit (CAD) bisa terus membengkak kedepannya. Sepanjang kuartal-IV 2018, CAD Indonesia tercatat senilai US$ 9,1 miliar atau 3,57% dari PDB, naik dari capaian kuartal-III 2018 yang sebesar 3,37% dari PDB. CAD pada kuartal-IV 2018 merupakan yang terparah sejak kuartal-II 2014. 

Jika berbicara mengenai rupiah, pos transaksi berjalan merupakan hal yang sangat penting lantaran menggambarkan pasokan devisa yang tidak mudah berubah (dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa). Hal ini berbeda dengan pos transaksi modal dan finansial yang bisa cepat berubah karena datang dari aliran modal portfolio atau yang biasa disebut sebagai hot money.

Wajar jika rupiah kini melemah menjelang rilis data perdagangan internasional.


Sumber : www.CNBC

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Ramai Ambil Untung, Saham Indofood Dkk Diobral Investor
  • Phapros (PEHA) Bagikan Dividen Rp110,26 Per saham
  • Dipompa Rating Moody's, Saham Lippo Karawaci Melesat
  • Jualan Roti Tawar Tembus Rp 2,09 T, Laba Sari Roti Naik 18%
  • Laba Melonjak, Saham ANTM MengKilap