» Detail News

Jumat, 30 November 2018 - 14:41:42 WIB

Posting by : Deny
Category    : Economic News - Reads : 27



Lagi, ADHI Terima Bayaran Rp 2,8 Triliun - Garap Proyek LRT


Meskipun pemerintah memutuskan untuk menghentikan pengerjaan proyek light rail transit (LRT) Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi beberapa hari kedepan, namun hal tersebut memastikan tidak berdampak pada bisnis konstruksi PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Apalagi, perusahaan konstruksi plat merah ini segera menerima pembayaran tahap kedua dari PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk LRT pada pekan kedua Desember 2018.

Direktur Keuangan Adhi Karya, Entus Asnawi M. Mengatakan, dokumen pembayaran pengerjaan LRT Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jabodebek) telah diteken Direktur Jenderal Perkeretaapiaan Kementerian Perhubungan. Setelah itu, dana akan mulai masuk ke Kereta Api Indonesia (KAI) pada pekan depan.”Kami dijanjikan paling lambat terima pembayaran minggu kedua Desember 2018. Pembayaran tahap kedua Rp2,844 triliun,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Entus memproyeksikan dana yang masuk akan berdampak positif terhadap kinerja keuangan perseroan. Secara khusus, pihaknya optimistis pembayaran tahap kedua mampu mengerek arus kas perseroan. Seperti diketahui, arus kas Adhi Karya tercatat positif Rp2,01 triliun pada kuartal I/2018. Namun, posisi berubah mejadi defisit Rp330,59 miliar pada kuartal II/2018 dan berlanjut menjadi Rp2,09 triliun pada akhir September 2018.

Perseroan telah menerima pembayaran tahap pertama pengerjaan LRT Jabodebek senilai Rp3,42 triliun. Dana segar itu telah diterima perseroan pada kuartal I/2018. Sebagai catatan, proyek LRT terdiri atas jalur pelayanan Cawang—Cibubur, Cawang—Kuningan—Dukuh Atas, Cawang—Bekasi Timur, Dukuh Atas—Palmerah-Senayan, Cibubur—Bogor, dan Palmerah—Grogol. Dalam proyek LRT itu, ADHI menjadi kontraktor berdasarkan penugasan pemerintah.

Adapun, nilai kontrak yang dibukukan oleh ADHI dari proyek itu senilai Rp19,7 triliun atau salah satu kontrak terbesar yang dikantongi perseroan pada 2017. Selain itu, perseroan juga memastikan belum akan merevisi target kontrak baru kendati kontrak baru yang diraih hingga Oktober mencapai Rp 12,3 triliun. Angka tersebut baru sekitar 52,63% dari target kontrak baru sepanjang tahun ini, yakni Rp23,37 triliun.

Disampaikan Entus, pencapaian kontrak baru didominasi oleh lini bisnis konstruksi dan energi sebesar 89,9%, properti 8,6%, dan sisanya merupakan lini bisnis lain.Jika dilihat berdasarkan segmentasi sumber dana, kontrak baru di Oktober 2018 diperoleh dari swasta atau lainnya sebesar 46,8%, BUMN 27,6%, dan pemerintah 25,6%.”Untuk tipe pekerjaan, perolehan kontrak baru terdiri dari proyek gedung sebesar 61,9%, proyek jalan dan jembatan 20,8% dan proyek infrastruktur lainnya 17,3%," ujarnya.

Sementara, hingga September 2018 perseroan membukukan laba bersih Rp335 miliar meningkat 63,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp205 miliar. Peningkatan laba bersih tersebut didukung dari perolehan pendapatan usaha September 2018 sebesar Rp9,43 triliun meningkat 8,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp8,71 triliun dan perolehan laba kotor sebesar Rp1,48 triliun meningkat 47,1% dibandingkan tahun sebelumnya, yakni Rp1,01 triliun.


Sumber : www.NERACA

  Tag :

adhi




    Berita Terkait :

  • Kereta Cepat dan LRT Dimoratorium, Saham ADHI & WIKA Terbang
  • Proyek Kereta Cepat di Moratorium, Saham ADHI & WIKA Anjlok
  • Adhi Karya (ADHI) Pertahankan Target Kontrak Baru Rp23,3 Triliun
  • ADHI Bukukan Pendapatan Rp 9,43 Triliun - Ditopang Proyek Jalan
  • Adhi Karya Andalkan Proyek Pemerintah Kejar Target Pendapatan Rp 18 Triliun