» Detail News

Jumat, 30 November 2018 - 14:36:42 WIB

Posting by : Deny
Category    : Economic News - Reads : 111



Lippo Karawaci Raup Dana Segar Rp 6 Triliun - Divestasi Aset Perkuat Likuiditas


Emiten properti, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) telah mendivestasi asetnya dengan menyelesaikan penjualan Manajer First REIT dan penjualan sebagian unit First REIT. Lewat aksi ini, anak usaha Lippo tersebut memperoleh pendanaan sebesar Rp 2,2 triliun. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Kata Danang Kemayan Jati, Corporate Communications LPKR, bersama dengan divestasi aset yang akan datang, LPKR akan memperoleh dana tunai bersih lebih dari Rp 6 triliun. LPKR berharap hal ini bisa memperkuat posisi likuiditas LPKR untuk memenuhi semua kewajiban pembayaran utang termasuk obligasi senilai US$ 75 juta yang jatuh tempo pada Juni 2020. Obligasi LPKR yang berikutnya yang akan jatuh tempo adalah obligasi tahun 2022.

LPKR mengungkapkan, transaksi First REIT akan memberikan kesempatan bagi LPKR untuk lebih memperkuat posisi likuiditas serta memperoleh hasil dari bisnis yang telah dibangunnya. Ini juga akan membuka kesempatan bagi pembeli untuk memperoleh platform REIT kesehatan di Singapura. Perusahaan ini juga tengah mempertimbangkan beberapa opsi untuk meningkatkan ekuitas di masa mendatang dengan mengembangkan beberapa lini bisnisnya di bidang properti, rumah sakit, mall, jaringan hotel, dan manajemen aset lewat REITs.

Sebagai informasi, PT Lippo Karawaci Tbk membukukan pendapatan usaha sebesar Rp5,56 triliun pada semester pertama tahun ini, tumbuh 13% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp4,91 triliun. Laporan keuangan perseroan sendiri molor dari ketentuan bursa paling lambat akhir Juli 2018, dengan alasan menunggu proses audit. Perseroan membukukan laba bruto sebesar Rp2,62 triliun, tumbuh 16,5% dibandingkan dengan semester I/2017 yang sebesar Rp2,25 triliun. Akan tetapi, perseroan mengalami lonjakan beban usaha dan beban lainnya yang signifikan. Hal ini menyebabkan laba usaha perseroan hanya Rp176 miliar, anjlok 74% dibandingkan dengan semester I/2017 yang sebesar Rp684 miliar.

Namun, perseroan mencatat adanya keuntungan pencatatan investasi pada entitas asosiasi dengan nilai wajar sebesar Rp2,36 triliun. Pendapatan non-rutin ini secara signifikan mendongkrak margin perseroan. Berdasarkan penjelasan perseroan dalam laporan keuangannya, keuntungan tersebut diperoleh dari pengukuran kembali atas nilai wajar investasi PT Lippo Cikarang Tbk. (LPCK), anak usaha LPKR, pada PT Mahkota Sentosa Utama (MSU), pengembang Meikarta.

MSU menerbitkan 14 miliar saham baru yang seluruhnya diserap oleh Peak Asia Investments Pte. Ltd. (PEAK) dengan nilai Rp4,05 triliun. PEAK semula adalah anak usaha LPCK, tetapi telah dilepaskan seluruh kepemilikannya kepada Hasdeen Holdings Limited, pihak ketiga, dengan harga pengalihan sebesar SGD1 juta. Akibat penerbitan saham baru ini, sisa kepemilikan LPCK pada MSU dengan demikian adalah sebesar 49,72%. Pengukuran atas nilai wajarnya yang baru dikurangi nilai wajarnya sebelum emisi saham baru adalah sebesar Rp2,37 triliun.


Sumber : www.NERACA

  Tag :

lpck




    Berita Terkait :

  • Meikarta Bikin Laba Lippo Cikarang Naik 556% Jadi Rp 2,87 T
  • Pendapatan Lippo Cikarang Tumbuh 37%
  • Dua Kali Mangkir, Manajemen LPCK Kembali Dipanggil Bursa
  • Laba Naik Hampir 10 Kali, Saham LPCK Melesat 3,69%
  • Meikarta Tersandung Kasus, Saham Lippo Kembali Rontok