» Detail News

Jumat, 23 November 2018 - 14:22:35 WIB

Posting by : Deny
Category    : Corporate News - Reads : 231



Distribusi Saham Yang Salah Pemicunya - Tren Saham IPO Auto Reject


Tren kenaikan harga saham di luar kewajaran saat penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) menjadi perhatian PT Bursa Efek Indonesia. Melihat kondisi ini, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Laksono Widodo mengatakan, ada beberapa sisi yang akhirnya ditinjau seperti aturan auto reject atas (ARA).”Harga saham IPO memang cukup tinggi kenaikannya. Kami kaji besaran ARA apakah perlu dua kali dari ARA saham normal atau disamakan saja,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, salah satu penyebab lonjakan ini adalah distribusi saham IPO yang masih salah dan tidak merata, serta diskon yang diberikan terlalu besar di rentang 20% hingga 30%. Terkait masalah distribusi akan diselesaikan dengan teknologi electronic bookbuilding (EBB). Setelah implementasi EBB, diharapkan kenaikan saham IPO hanya akan ada di rentang 10% sampai 30%. Terkait tingkat kesuksesan saham IPO yang semakin tinggi persentasenya maka semakin bagus, menurut Laksono jika kenaikannya masih di kisaran 10% sampai 30%, IPO masih dalam kategori sukses. “Jika di atas itu (lebih dari 30%) maka distribusinya salah,”kata Laksono.

Rupanya, peningkatan harga saham yang tidak wajar saat IPO juga menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kedepannya kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hoesen, tidak hanya BEI yang mengawasi emiten-emiten baru yang mencatatkan auto reject, tetapi juga OJK. Disampaikannya, saat ini, perusahaan-perusahaan dengan harga pembukaan perdana yang naik drastis sedang dalam pemeriksaan OJK. "Semuanya, transaksi yang volatile sedang kami periksa. Apalagi yang sudah sampai di suspensi," kata Hoesen.

Hoesen mengatakan, OJK juga akan memeriksa underwriter terkait dengan kenaikan saham IPO secara drastis ini. Namun demikian, OJK belum menyimpulkan bahwa hal tersebut bisa disebut manipulative price. Hanya saja, OJK akan terus berupaya mencegah penggelembungan harga-harga saham IPO. Salah satu caranya adalah mengejar aturan terkait dengan e-bookbuilding, sehingga kenaikan drastis pada saham IPO tak terjadi lagi.

Sebelumnya, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna pernah bilang, dirinya tengah mengkaji peraturan perdagangan, khususnya terkait penolakan otomatis penawaran atau auto reject pada saat pencatatan perdana. Hal itu sebagai bentuk penyelarasan praktik yang berlaku umum di bursa-bursa dunia lainnya, sehingga membentuk pasar yang wajar dan efisien.

Kajian tersebut, menurut Nyoman Yetna selaras dengan rencana regulator pasar modal, dalam hal ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menerbitkan peraturan elektronik book building.“Auto Reject pencatatan perdana akan menyesuaikan dengan aturan bursa yang lain,”ujarnya.

Disampaikannya, berdasarkan praktik yang berlaku di bursa- bursa lain di dunia yang telah mapan, di dapat angka auto reject pencatatan saham perdana pada angka 20% - 30%. Umumnya, 20% - 30% angka auto reject saham perdana yang dianggap umum dan fair.


Sumber : www.NERACA

  Tag :

ipo




    Berita Terkait :

  • CALON EMITEN: Sentral Mitra Tetapkan Harga Rp285 per Saham
  • PASAR MODAL 2019: Pipeline IPO Tembus 45 Perusahaan
  • Perhatian! OJK akan Periksa Transaksi 9 Saham yang Baru IPO
  • Sudah ada 45 calon emiten baru bersiap IPO di tahun 2019
  • Satria Mega Kencana Targetkan Dana Rp60 Miliar dari IPO