» Detail News

Kamis, 11 Oktober 2018 - 14:35:58 WIB

Posting by : DEA
Category    : Corporate News - Reads : 36



United Tractors (UNTR) Pacu Penjualan Batu Bara & Kokas


PT United Tractors Tbk. (UNTR) melalui anak usahanya PT Tuah Turangga Agung (TTA) optimistis menjual batu bara sejumlah 6,8 juta ton sampai dengan akhir 2018, meningkat 7,42% dari realisasi tahun lalu sebesar 6,3 juta ton.

Corporate Secretary United Tractors Sara K. Loebis menyampaikan, sampai dengan akhir 2018 perseroan membidik volume produksi atau penjualan batu bara dari TTA sejumlah 6,8 juta ton. Per Agustus 2018, kinerja penjualan sudah mencapai 5,58 juta ton, naik 20,27% year-on-year (yoy) dari periode 8 bulan pertama 2017 sejumlah 4,64 juta ton.

“Sampai akhir tahun penjualan atau produksi batu bara TTA bisa mencapai 6,8 juta ton,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.

TTA sebagai induk unit usaha pertambangan UNTR memegang sejumlah konsesi tambang batu bara dengan perkiraan total cadangan 400 juta ton. Tingkat kalori berkisar dari kelas menengah hingga kalori tinggi.

Perusahaan juga memiliki 80,1% saham PT Suprabari Mapanindo Mineral yang memproduksi batu bara kokas. Akuisisi tambang yang memiliki cadangan 40 juta ton di Kalimantan Tengah rampung pada Maret 2017. Sara menyebutkan, sampai akhir 2018 volume produksi dan penjualan batu bara kokas berkisar 700.000 ton.

Dia menambahkan, kendati industri batu bara sedang berada dalam tren yang positif, perusahan belum memiliki rencana menambah cadangan melalui akuisisi. “Sementara belum ada rencana akuisisi lagi,” imbuhnya.

Secara terpisah, Direktur United Tractors Frans Kesuma menyampaikan, volume produksi batu bara kokas per September 2018 berkisar antara 500.000--600.000 ton. Adapun, penjualannya mencapai 500.000 ton.

"Pada kuartal III produksi mulai dapat dipacu karena cuaca cenderung kering," ujarnya.

Untuk mengoptimalkan produksi dan penjualan ke depan, perusahaan akan menambah kapasitas intermediate stockpile (ISP) di pelabuhan. Dengan demikian, perusahaan dapat menyimpan stok lebih banyak saat cuaca basah, dan kemudian menggenjot penjualan ketika cuaca kering.

"Kalau saat ini karena stockpile terbatas, produksi jadi terhambat karena belum ada tempat penyimpanan. Adanya ISP dapat memaksimalkan penjualan saat kemarau karena stok terjaga," paparnya.

Ekspansi Emas
Frans yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Pama Persada ini menyampaikan, perseroan juga akan memacu ekspansi emas setelah menyelesaikan proses pengalihan (hand over) tambang Martabe di Sumatra Utara. Diperkirakan hand over dapat dilakukan pada akhir 2018.

Ada dua langkah awal yang akan dilakukan perusahaan di Martabe, yakni melakukan eksplorasi dan membuat processing plant. Adanya eksplorasi baru diharapkan menambah jumlah cadangan emas perseroan.

"Kami belum masuk full. Setelah hand over kami punya hak 100% untuk lihat ke dalam. Tentunya area Martabe akan kami review," ujarnya.

Pada 2017, tambang Martabe membukukan laba bersih sebesar US$150 juta dengan produksi emas mencapai 350.000 ons. Frans menyebutkan, perusahaan nantinya dapat meningkatkan produksi batu kuning melampaui 400.000 ounces.

Tambang Martabe yang terletak di Tapanuli Selatan tersebut diprediksi memiliki cadangan sebesar 4,3—4,5 juta ton. Emiten dengan kode saham UNTR tersebut akan memegang lisensi operasional tambang Martabe hingga tahun 2043.

Adapun, UNTR menandatangani kesepakatan akuisisi tambang Martabe pada 8 Agustus 2018 melalui anak usahanya yaitu PT Danusa Tambang Nusantara. Danusa membeli tambang Martabe dari PT Agincourt Resources Pte. Ltd. sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura.

Danusa Tambang Nusantara merupakan anak usaha perseroan di mana 60% sahamnya dikuasai United Tractors, sedangkan 40%-nya dikuasai oleh PT Pamapersada Nusantara.

Sumber : www.Bisnis

  Tag :




    Berita Terkait :

  • Banjir Sentimen Negatif, Harga Minyak Terendah Dalam 2 Pekan
  • Jokowi: RI dan Singapura Sepakati Swap US$ 10 Miliar
  • The Fed Hanya Bisa Beri Petunjuk Untuk Jangka Pendek
  • INCO Habiskan US$552.865 Untuk Eksplorasi September.
  • Superkrane Incar Kontrak US$100 Juta Hingga 2021.