» Detail News

Jumat, 14 September 2018 - 11:07:59 WIB

Posting by : Deny
Category    : Economic News - Reads : 60



Pool Finance Targetkan Laba Tumbuh 150% - Genjot Pembiayaan Produktif


Perkuat modal guna mendanai ekspansi bisnisnya, PT Pool Advista Finance Tbk sebagai perusahaan pembiyaan bakal mencari pendanaan di pasar modal dengan melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO). Perseroan berambisi membidik laba akhir tahun di 2019 tumbuh hingga 150%.

Direktur PT Pool Advista Finance, Raden Ari Priyadi mengatakan, laba perusahaan hingga bulan Juli 2018 sudah mecapai Rp 25 miliar. Sedangkan di akhir tahun 2017 lalu sebesar Rp 29 miliar dengan pendapatan mencapai Rp 42 miliar. “Dengan adanya aksi IPO, kami ekspektasi laba akhir tahun 2018 mencapai Rp 35 miliar. Namun di akhir 2019, kami optimis bisa tumbuh lebih besar yakni 150% secara tahunan,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Saat ini, CAGR PT Pool Advista Finance pun sudah terjaga di level 20% dalam dua tahun terakhir. Untuk memuluskan target laba ini, perusahaan sudah dan akan menggandeng perbankan. Salah satunya yang sudah resmi bekerja sama adalah PT Bank Kesejahteraan Ekonomi (BKE). “Strategi kami dengan melakukan maintain collection. Jadi buka mantain utang melainkan mengelola aset pembiayaan agar menjadi sumber pendapatan dan sumber pengembalian,”kata Ari.

Selain itu pihaknya juga akan fokus kepada pembiayaan produktif dengan nasabah yang disasar adalah nasabah koporasi. Perseroan telah menyalurkan pembiayaan produktif sekitar 67% dari total pembiayaan dan jaringan kantor perusabaansaat ini masih di Jakarta, Bandung dan Medan. “Pembiayaan konsumtif kami tidak terlalu besar dan kebanyakan untuk pembiayaan multiguna perorangan. Dulu kami memang ada pembiayaan kendaraan bermotor namun sejak 2015 kita sudah shifting ke pembiayaan produktif. Untuk pembiayaan syariah kami baru saja mendirikan unit usaha syariah Juli lalu,”ungkap Ari.

Dari sisi kualitas pembiayaan, PT Pool Advista Finanance termasuk baik karena per Juli 2018 rasio pembiayaan bermasalah mereka atau non performing financing (NPF) hanya 0,05%. Itu dikarenakan dari jaminan nasabah yang merupakan fix aset sehingga nasabah sangat menjaga kualitas kredit mereka. Nantinya pasca IPO, lanjut Raden Ari, perseroan berharap aset hingga akhir tahun ini tembus Rp 500 miliar. Tercatat hingga Juli 2018, posisi aset ada di angka Rp 322 miliar. Sementara untuk total pembiayaan per Juli 2018, mencapai Rp 258 miliar dengan fokus pembiayaan di modal kerja dan pembiayaan investasi.


Sumber : www.NERACA

  Tag :

ipo




    Berita Terkait :

  • Super Energy Bidik Dana IPO Rp 38 Miliar
  • Pengumuman, Super Energy Tawarkan Diskon Harga IPO
  • Superkrane siap IPO September 2018
  • PT SOS Indonesia Lepas 23% Saham Ke Publik
  • Perusahaan Alat Berat Ini IPO, Harganya Mulai Rp 900/Saham