» Detail News

Senin, 09 Juli 2018 - 10:02:49 WIB

Posting by : Deny
Category    : Corporate News - Reads : 359



Akan IPO pekan ini, Pollux Properties Indonesia bidik dana Rp 767 milia


PT Pollux Properties Indonesia akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) lewat penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Pengembang Proyek Mixed Use Chadstone Cikarang akan menggunakan dana IPO tersebut untuk melakukan ekspansi bisnis properti.

Pollux Properties berencana melepas 1,24 miliar lembar saham atau setara 15% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dari aksi korporasi itu, perusahaan membidik dana sekitar Rp 767,4 miliar.

Donisius Adi Director of Corporate Finance Pollux Properties Indonesia mengatakan sebesar 99% dana IPO itu akan digunakan untuk mengambil alih obligasi konversi PT Royal Royce Properties yang dimiliki oleh PT World Appareal dan PT Surya Masindo.

"Pencatatan saham perdana Pollux Properties akan digelar pada 11 Juli 2018," ungkap Donisius pada Kontan.co.id, Minggu (8/7).

Donisius menjelaskan, PT Royal Royce Properties saat ini tercatat memiliki dan mengoperasikan beberapa mall, hotel dan apartemen di semarang, antara lain Paragon Mall dan central city mall, Po Hotel, Hotel Louis Keene Simpang Lima, Pandanaran dan Pemuda, Apartemen WR, Pinnacle dan Marque de Lafayette Semarang, serta beberapa proyek lain di Semarang.

Obligasi PT Royal Royce Properties itu akan dikonversi menjadi saham baru Pollux Properties. Untuk menggawal aksi IPO tersebut, perusahaan menggandeng UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.

Saat ini, Pollux Properties Indonesia tengah gencar melakukan pengembangan proyek properti. Pada pertengahan Mei 2018 lalu, perusahaan resmi meluncurkan proyek superblok Pollux Technopolis seluas 42 ha di Karawangan. Proyek itu direncanakan akan dibangun dalam enam tahap dan akan menelan investasi Rp 50 triliun.

Untuk tahap pertama, akan dibangun lima tower apartemen dengan kapasitas 2.500 unit dan ruko Dotonbori 360 unit yang akan menelan investasi senilai Rp 7 triliun. Sebelum resmi diluncurkan, Pollux Properties sebetulnya sudah memulai penjualan apartemen tower pertama sejak akhir-akhir tahun lalu sebanyak 470 unit. Sementara Ruko Dotonbori sudah baru dipasarkan pada tahun ini.

Pollux Properties telah membukukan marketing sales Rp 1,5 triliun dari proyek tersebut. Sampai akhir tahun, perusahaan menargetkan penjualan dari proyek anyar itu Rp 2 triliun.

Selain itu, Pollux Properties juga memiliki proyek yang sedang berjalan saat ini antara lain Kawasan Terpadu Gangnam District Bekasi dan Proyek Superblok Chadstone di Cikarang.

Pollux Properties lewat PT North Pacific Development juga melakukan kongsi dengan keluarga mantan Presiden ketiga Republik Indonesia B.J Habibie
mengembangkan superblok di Batam bertajuk Meisterstadt seluas 9 ha. Proyek yang akan merangkum perkantoran, rumah sakit, pusat perbelanjaan, hotel hingga sarana pendidikan universitas itu akan menelan investasi Rp 15 triliun.

Sementara bersama dengan PT Mega Kuningan International, perusahaan sedang membangun proyek perkantoran di Mega Kuningan bertajuk World Capital Tower (WCT). Ini adalah proyek perkantoran pertama yang dikembangkan Pollux.

Proyek kantor grade A ini dibangun di atas lahan seluas 8.000 meter persegi (m2) di Mega Kuningan, Jakarta. Proyek ini terdiri dari area perkantoran seluas 84.000 m2 dan area ritel tiga lantai seluas 3.000 m2 dan ditargetkan akan beroperasi tahun depan. Sekitar 30% area perkantoran merupakan strata title dan 70% diperuntukkan untuk sewa.

Seperti diketahui, Pollux Properties Indonesia merupakan perusahaan properti milik Po Soen Kok. Dia adalah penguasaha asal Semarang yang memulai bisnis di bidang garmen sejak 1980-an yang berorientasi pada ekspor. Sebelum gencar melakukan ekspansi di dalam negeri, Pollux Properties sudah terlebih dahulu sukses mengembangkan proyek di Singapura.


Sumber : www.KONTAN

  Tag :

penawaran-umum-terbatas




    Berita Terkait :

  • NFC Indonesia Menetapkan Harga Pelaksanaan IPO Rp 1.850 per Saham
  • Bentoel Investama Berniat Gelar PUT III