» Detail News

Jumat, 08 September 2017 - 09:14:47 WIB

Posting by : Fransiska Lintang
Category    : Corporate News - Reads : 113



IPO Semester II Mulai Ramai


Initial public offering (IPO) kembali ramai di paruh kedua tahun ini. Salah satu calon emiten yang membidik dana IPO adalah PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia (GMF).

Dalam prospektus ringkas yang terbit Kamis (7/9), GMF akan melepas maksimal 10,89 miliar saham, atau 30% dari modal ditempatkan dan disetor. GMF akan menggunakan 60% dana IPO untuk investasi peningkatan kapasitas di line maintenance. Lalu, 15% untuk membayar pinjaman bank, dan sisanya digunakan untuk modal kerja.

Hajatan IPO juga akan diramaikan oleh perusahaan rintisan (start up). PT Kioson Komersial Indonesia akan menjadi start up pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kioson menawarkan maksimal 150 juta saham atau 23,07% dari modal ditempatkan dan disetor.

Harga IPO sebesar Rp 280 hingga Rp 300 per saham. Jadi, Kioson membidik Rp 42 miliar hingga Rp 45 miliar dari hajatan ini. Jasin Halim, Direktur Utama Kioson, mengatakan, pihaknya ingin mencari terobosan baru melalui IPO. "Karena jalur pendanaan bukan cuma venture capital," kata dia di Jakarta, kemarin.

Sebagai pemanis, Kioson juga akan menerbitkan 150 juta waran seri I yang menyertai saham baru. Nantinya 75,6% dana IPO akan dipakai untuk mengakuisisi PT Narindo Solusi Komunikasi dan sisanya untuk modal kerja. Kioson telah menunjuk PT Sinarmas Sekuritas sebagai penjamin emisi.

Selain itu, PT PP Presisi dan PT Wika Gedung juga berencana menawarkan 30%-35% saham IPO. Target dana yang dibidik perusahaan tersebut sekitar Rp 3 triliun hingga Rp 3,5 triliun.

Muhammad Nafan Aji, Analis Binaartha Parama Sekuritas, mengatakan, investor akan cenderung memilih perusahaan yang telah memiliki reputasi bagus dan rekam jejak positif. Kinerja fundamental juga jadi pertimbangan.

"Selain itu, tujuan penggunaan dana IPO harus diperhatikan," ujar Nafan. Perusahaan yang menggunakan dana IPO untuk ekspansi, biasanya lebih diminati. Sebaliknya, saham IPO yang cenderung kurang disukai adalah jika penggunaan dananya hanya untuk membayar utang.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan IPO anak BUMN akan dinantikan investor. "Terutama sektor konstruksi yang menjadi motor pemerintah" ujar Hans.Hans lebih menyukai rencana IPO PP Presisi.




Sumber : www.kontan.co.id

  Tag :

ipo




    Berita Terkait :

  • MPOW Lunasi Utang dan Penuhi Modal Kerja dari IPO
  • Cari Tambahan Modal, 2 Bank Syariah Berencana IPO
  • Mark Dynamics Tawarkan Harga IPO Rp 200-Rp 300
  • Megapower Tawarkan Harga IPO Rp 200 - Rp 250
  • Produsen Beras Topi Koki Raih Izin Pra Efektif IPO